Translate

Rabu, 24 Juli 2013

rasa yang tersesat

ada yang berusaha mem-per-tahan-kan-nya
ada yang memberinya dengan ikhlas
ada yang melepasnya dengan sia-sia
ada yang dipaksa
...dirampas
ada yang malah mem-per-main-kan-nya...

tentang sebuah kehormatan
tentang sebuah tanda kasih
tentang sebuah kebodohan
sesuatu rasa yang tersesat
karena kenikmatan
lepas sesaat..

semua yang awal pasti ada akhir
penyesalan tak pernah selesai
mengikuti hirup hembus nafas
mendesir menyayat pilu
mengisi ruang jiwa yang hampa


Knp masa kini tak prnah terpikirkan di masa lalu ??

Sabtu, 04 Mei 2013

'Penjaga Malam Seberang Jalan'

Di sudut malam, di tepian jalan, 
Wanita tengah usia itu duduk termenung. 
Sesekali matanya mengikuti laju kendaraan yang melintas di jalan. 
Sudah lewat tengah malam, ia masih sanggup terjaga. 
Lamunanya buyar, seorang pria pengendara motor berhenti di depanya, mematikan mesin motornya.
'Satu botol Mbak' sambil membuka jok motornya. 
Dengan hati-hati wanita itu mengambil sebotol bensin dan mengambil corongnya 
lalu menuangkanya ke tangki bensin motor pelangganya. 
Selembar uang lima ribu rupiah diterimanya dengan senyum, 'makasih Pak' ,sahutnya perlahan. 

Dia adalah wanita penjual bensin eceran yang berjualan sebelah jembatan di ruas jalan terbesar di kota ini. Pakaiannya sederhana, sebuah jaket usang menyelimuti tubuhnya, lengkap dengan kain penutup kepalanya. Pelindung yang rapuh dari hantaman angin malam. 
Cahaya remang lampu jalan yang terhalang rimbun pohon perindang temani kesendirianya. 
Tampak guratan di wajahnya, sisa-sisa gambaran rupa masa mudanya kian hilang. 
Keriput dan kering terpapar lampu jalan. 
Usianya kira-kira empat puluhan tahun. 
Adakah malam memaksanya terus terjaga, hingga aku kembali melintasi, 
wanita itu masih tenang menjaga malam ini. 

Sudah hampir dua tahun, 
pandanganku tak penah lepas ke arahnya setiap kali melewati jalan itu, kala hari telah berganti. 
Kadang saya berhenti di seberangnya, memperhatikannya dalam diam yang tak disadarinya. 
Sesekali juga saya berhenti di depanya, membeli sebotol bensin yang dijualnya.
Lalu duduk tak jauh darinya, pura-pura menunggu malam bersamanya. 
Setelah menghabiskan sebatang rokok, kemudian saya melanjutkan perjalanan. 

Awalnya kehadiranku tak terlalu diperhatikanya, 
mungkin terlalu sibuk baginya mengharapkan seseorang segera berhenti untuk membeli daganganya. 
Saya sendiri juga tak ingin mengganggunya, saya memilih untuk memperhatikan saja. 
Namun kejenuha memaksanya untuk mulai berbagi cerita. 
Suatu malam, saat saya pulang dari jenguk sahabatku, sengaja aku mampir ke tempatnya. 
Aku membeli sebotol bensin, seperti biasa saya mengambil tempat tak jauh darinya untuk sekedar duduk melepas lelah. Jam di handphoneku sudah di angka 03;35, pertanda pagi hampir menjelang. 
Sambil mengutak-atik hp, saya mengambil sebatang rokok, membakarnya dan menghirup dalam-dalam asapnya lalu menyemburkan asapnya tanpa rasa bersalah. 
Udara dingin terhempas bercampur asap rokok dan bau asap kendaraan, menambah polusi alam ini. 
Kehidupan ini makin ternodai, saya terlalu suka membuat alam ini tercemar ,pikirku. 
'Mas, mau kemana? ,tanya wanita itu perlahan. 
'Mau pulang Bu' ,jawabku sekenanya. 
'Dimana tinggalnya' ,tanya wanita itu lagi. 
Pembicaraan pun berlanjut, dengan rentetan pertanyaan dan jawaban yang saling berbalas. 

Banyak yang diceritakanya, bahkan yang tak kutanyakan pun dijawabnya. 
Jujur dan tak ada kesan dibuat-buat. 
Penuturanya sederhana, begitulah hidup memperlakukanya, meski ia sendiri tak memintanya. 
Ia berusaha keras mengikuti alur gerak kehidupan ini mengalir. 
Tak jarang dia harus melawan arus, kadang juga terbentur tertahan di tiap lekukan waktu. 
Ia tak menyerah, harapanya masih tersisa, meski hidup tak berlaku adil padanya. 
Pusaran waktu terlalu cepat untuk dikejarnya, 
Ia hanya terseret jaman, menghela udara dingin yang tercemar debu jalanan. 
Sesak didadanya, teteskan seberkas air mata disudut matanya yang mulai lelah berkedip. 
Entah sampai kapan ia terjaga di sisi jalan ini, berteduh diantar tiang-tiang bisu sepanjang jalan. 
Semoga putaran roda yang mengukur waktu, 
selalu berhenti sejenak didepanya, 
hingga tiap botol yang terisi itu kembali kosong, 
untuk diisi kembali.

Sabtu, 20 April 2013

'Jangan Sakiti Dirimu Saat Kuingin Menyayangimu'

Waktu melambat di ujung jalan ini, 
aku letih memandang kerasnya batu jalanan yang telah kusetapaki, hanya untuk mendekat padamu. 
Engkau mungkin tak akan percaya pada alasanku melangkah, 
tertatih, terjatuh dan tersungkur. 
Terlalu asyik dirimu menikmati kesukaanmu pada kebebasan yang dititipkan padamu. 
Tak sempat engkau menoleh saat aku memandang ke arahmu. 
Aku menahan nafas, memendam segala rasa yang bergejolak. 
Ingin kusemburkan, kulepaskan mengalir menghempaskanmu 
agar engkau tahu rasanya terjatuh saat engkau tak memikirkanya. 

Kupelankan rasa, 
aku bisa memahami semuanya, 
meski tak semuanya tentangmu dapat kuterima. 
Kubiarkan waktu membawamu terbang, 
menghirup tiap detik kehidupan yang ingin kau resapi. 
Sementara aku menelusuri lorong-lorong bisu, 
tempat dulu kita goreskan kisah di setiap jengkal dinding waktu. 
Dalam diam mereka menatapku haru, 
seolah ingin bercerita, apa yang telah kau lakukan pada mereka. 
Adakah engkau telah membungkam mereka dalam pertapaan panjangnya. 
Kesedihannya tergambar jelas dari setiap coretan yang kau buat, 
hingga wajahnya berlumuran duka yang tak terungkap. 

Kemankah aku mengikutimu lagi, 
janganlah engkau bersembunyi di depan mataku. 
Kadang aku bisa melihat bayangmu, 
namun sulit bagiku mengimbangimu, 
langkahmu terlalu cepat untuk kukejar. 
Jika dua mataku memiliki batas pandang, 
paling tidak mata hatiku tak sedikitpun berkedip. 
Adakah satu cahaya selalu memantulkan dua bayang 
diantara redup mataku menembus dinding waktu. 

Aku terus berlari mendekatimu, 
untuk terus mengikutimu dangan nafas yang tersisa, 
setidaknya engkau tak hilang dari pandanganku. 
Namun sekeras apa pun aku mencoba, 
pandangan mataku tak mampu menembusi kabut. 
Aku berbisik pada angin, 
berhembuslah sekali ini saja, 
menghalau kabut yang menutupi jalanku.
 Dalam harap cemas, 
tak akan kubiarkan engkau berlari bersama dua bayangmu. 
Aku selalu punya cara untuk mendahuluimu, 
terlalu banyak lorong yang tak merasa keberatan untuk kulintasi. 
Aku hanya perlu untuk berdiam sejenak, 
dan pintu-pintu itu lalu terbuka. 

Kali ini langkahku terlalu cepat, 
dan aku telah berada di depan jalanmu. 
Aku menunggumu lewat, 
kan kupastikan tak ada lagi bayang semu yang menghalangi pandanganku. 
Sepertinya aku bosan menunggumu, 
kuputuskan untuk kembali, 
mencarimu di tempat aku melepaskan pandanganku. 
Rasaku membawaku kembali, 
keyakinanku tak pernah salah, 
aku selalu bisa menemukanmu. 
Ada sesuatu yang menuntunku, 
yang sering kubisikan padamu dan itu membuatmu tersenyum, 
meski kutahu itu hanyalah pura-pura. 
Kali ini akan kubisikan lagi, 
dan mauku bukan senyummu saja yang kudapatkan, 
tapi lebih dari itu. 
Tapi aku belum yakin saat wajahmu tak berpaling padaku, 
kucoba untuk menatap matamu. 

Perlahan aku mengangkat wajahmu, 
engkau membuatku tertegun. 
Linangan air mata itu, 
tak lagi terbendung dan mulai menetes di pipimu. 
Aku terdiam, 
aku ingin mendapatkan arti dari air mata itu. 
Engkau mulai terisak dan menangis sejadinya, 
yang membuatku terus berusaha mencari jawabanya. 

Sial bagiku, 
yang kudapatkan malah sebuah pertanyaan, 
adakah aku selalu untukmu, 
saat bayang yang menemanimu telah meninggalkanmu. 
Seperti yang engkau tahu, 
akan kuulurkan tanganku, 
menopangmu dan melangkah bersama 
dengan tujuan yang berbeda. 
Maaf bila aku harus memilih jalanku sendiri,
 engkau tak banyak memberiku banyak pilihan. 
Engkau terlalu sibuk menyakiti dirimu, saat aku ingin selamya bersamamu di sini. 
Tak perlu memohon padaku 
untuk mengagumimu 
saat nilai keindahanya 
telah kau nodai. 
Maaf aku tak pernah terkesan..., 

Sabtu, 26 Januari 2013

'Matahari di Terik Siang'

Waktu berputar kembali disini
Aku masih masih berharap cemas 

bukan kali ini saja
sudah dari hari kemarin dan beberapa hari belakangan ini. 
Kecemasanku bukan tak beralasan 
kata orang itu sesuatu yang wajar. 
Terkadang kita perlu untuk merasa cemas 
hanya untuk memastikan bahwa segala sesuatunya berjalan sebaik mungkin.
Pernah kualami hal seperti ini

tapi kali ini benar-benar berbeda 
aku menunggu, aku menanti, aku menahan, aku tertahan ah..aku sangat tidak ingin terlalu lama lagi. 
Mataku tidur tak terpejam
pendengaranku semakin tajam 
jangankan suara bisikan, suara hatipun aku bisa dengar. 
Ini sesuatu yang berlebihan
atau ada yang ditambahkan dari apa yang kuduga.

Aku ingin malam segera berganti pagi 

tapi malam berjalan lamban. 
Dingin yang menusuk tulang tak lagi kurasakan 
rasa penasaranku lebih cepat bergerak ketimbang jarum jam yang tergantung di dinding. 
Ingin rasanya aku tidur sejenak
namun bisikan itu sulit kutolak
seolah mengajaku bermain dalam imajinasi. 
Apakah aku berjalan dalam mimpi 
ataukah ini mimpi yang kuciptakan. 
Aku berlari seolah berjalan
berjalan diantara kuncup-kuncup waktu
tak tahan rasanya menyentuh embun di ujung daun. 
Itu tetes air terjernih persembahan malam
tergantung tak lepas menanti cahaya uapkan rasa berserinya. 
Berikan aku setetes agar dahagaku lenyap 
percikan sedikit saja bila itu berlebihan
tunjukan warna cahayamu
kilau seberkas terpancar terbatas 
bilakah engkau berbagi ?

Rasa lelah letih hilang tak berjejak 

aku selalu disini untukmu
temanimu dari pagi ke pagi lagi. 
Kuabaikan setiap seruan yang memanggilku pergi 
tak akan kubiarkan engkau menikmati sendiri bahagia dalam tangisan nanti. 
Sesederhana itu alasanku tak melangkah
lagian aku sedang tak ingin berlari.
Aku tak ingat pasti kapan semua ini kumulai, 
Aku selalu sempatkan hatiku bersamamu
bukan, bukan hati saja
jiwa dan ragaku disini untukmu dan dia nanti. 
Kututup hasratku, tak ingin aku melangkah jauhi tepian ini. 
Tak mesti aku berlayar, ketika berlabuh tak terbatasi.

Simpul waktu kian dekat, getarannya kian terasa 

hembuskan aku angin penyejuk rasa
agar kuat aku menahan nafas untuknya. 
Entah ini sesuatu yang bodoh atau sebuah pilihan konyol 
untuk pertamakalinya kugantungkan harapanku padanya. 
Biasanya aku yang menuntunmu, mengajarimu, menopangmu, 
tapi kali ini aku biarkan dirimu bertahan disuatu titik. 
Tempat semua teori, semua warisan, semua hakekat, semua dan semuanya membuktikan sesuatu, 
bahwa engkau bisa menjadikan segalanya benar dan baik-baik saja. 

Tidak pada dia
tidak pada mereka
tidak pada semuanya 
tapi pada-Nya yang menjadikan dia untukku
aku bersujud aku berserah.
Aku bersuara tak terdengar 

dia menjerit dalam bisikan 
mereka berucap memohon 
kepada-Mu aku berpaling.

Embun terakhir telah menguap

pagi beranjak siang
kehangatan mulai terasa. 
Tak sedikitpun aku merasakan panas
berteduh di bawah rindang kasih-Mu untuknya dan dia. 
Seberapa besar kesal-Mu padaku...
izinkan dia memuliakanmu dengan bahasanya. 
Biar kudengar ia menyapa, salam pertama pada alam, syukur tak terhingga untukmu.
Aku terdiam 

semua terdiam 
tak ada yang bergerak 
lurus kaku alam menahan waktu berputar 
Tak ada bayang
cahaya diantara cahaya
Tengah hari di pertengahan tahun ini
hari ke dua di pekan pertama
pertengahan musim di awal bulan
akan selalu tertulis dibawah namamu
disetiap lembaran kisah saat waktu kembali disini.
Namamu cahaya

Matahari untukmu 
engkau selalu ada tuk hangatkan rasa.
Engkau selalu dinanti kala musim berganti 

meski tak sempat, engkau memberi pelangi.
Engkau menembus awan, menghalau mendung,
Bila terikmu terlalu panas

jangan lupa menyiramnya denga air mata awan,
sediakan tetesan embun

saat sejenak engkau bersemedi
sebelum engkau kembali disini dengan senyum mu,

Untukmu Matahariku..


Kamis, 13 Desember 2012

'Untukmu yang nekat'

Hidup adalah menikmati rentang waktu yang tak terhingga.
Dan jika waktu masih milikmu, nikmatilah itu sampai puas bahkan sampai bosan.
Tak ada yang salah denganmu, semua kebebasanmu adalah harta paling berharga yang pernah dimiliki.
Katakan tak peduli pada apapun, dan tak mau tahu apa yang akan terjadi nanti.
Jangan pikirkan nanti, nikmatilah saat ini, karena nanti belum tentu ada. 

Saat semuanya masih indah buatlah itu terus terlihat indah.
Jangan pernah punya niat untuk merusak sedikitpun.
Biarkan keindahan itu mengalir dalam hidupmu, tak perlu kau tahan alirannya.
Lepaskan semua simpul yang mengikat, biarkan terurai mengambang melayang tanpa beban. 

Terbanglah tinggi dan lebih tinggi lagi hingga tak ada yang lebih tinggi lagi untuk ditaklukan. 

Namun sayang, hidup kadang tak seindah mimpi.
Hidup tidak bergerak dalam ruang pikiran, tidak merambat dalam dunia imajinasi, hidup terjadi di dunia nyata. 

Tempat dimana segala rasa, asem asin manis pahit dan kecut tercampur menjadi adonan yang perlu engkau kecap. 
Setidaknya beberapa diantara rasa itu pasti akan terjadi sekali, berulangkali dan bukan tidak mungkin berkali-kali.
Hanya saja porsinya berbeda dan polanya kadang tak sama.
Tak ada yang memaksamu meyakini kesimpulan itu,
tentunya bolehlah engkau menganggapnya keliru,
toh itu hanyalah barisan kata-kata yang belum sempat kau pahami. 


Lalu apakah setiap kata yang dinamakan nasehat,
yang entah datang dari siapapun atau yang datang dari dalam dirimu, hanyalah hamparan huruf-huruf mati? 

Sepertinya engkau perlu memikirkan ulang cara pandangmu,
paling tidak bersabarlah bareng sejenak saja.
Berikan sedikit ruang untuk berpikir sebelum engkau benar-benar memutuskan untuk membuat sebuah pilihan.
Karena percaya atau setengah percaya, bahwa sekecil apapun tindakan di suatu waktu,
akan ada kosekuensinya diwaktu yang berbeda.
Dan diantara kita, jarang ada yang tahu, kapan pastinya itu akan terjadi,
karena hidup penuh dengan tanda tanya,
biarkan pertanyaan itu menjadi rencana cadangan setiap mengambil keputusan.
Sekalipun itu untuk hidupmu sendiri,
tak elaok rasanya hanya mengedepankan ego yang berlebihan.
Di dunia ini, selain diri kamu, masih ada orang lain yang menjalani hidup,
kita tak akan benar-benar melakukan sesuatu sendirian.
Selalu ada yang bersinggungan, bersentuhan, bahkan bertabrakan dengan apa yang kita lakukan. 


Tapi jika kamu berhadapan dengan pilihan yang semuanya berat untuk diputuskan,
jangan pernah putus asa mencoba dan terus mencoba sebelum engkau membiarkan saja itu terjadi.
Setiap tindakan itu ibaratnya sebuah pulau dalam waktu, harus dinilai dari tiap masanya.
Jangan terlarut dalam kesedihan karena masa lalu,
dan bila masa kini tak membawa kebaikan di masa mendatang, jangan terlalu membebani diri. 

Begitupun dengan sebuah kesalahan,
semua orang pernah berbuat salah,
hanya saja tak senekat kamu yang memaksakan diri untuk berbuat dosa. 

Jika pintu maaf masih terbuka untukmu, pikirkan untuk memikirkan hal lainya. 
Karena sekuat apapun niatmu untuk nekat berbuat dosa,
pastikan anda juga kuat untuk menanggung 'rasa bersalah' atas dosa yang telah kau perbuat. 

Rasa bersalah itu akan menghantui pikiranmu bahkan mengganggu hidupmu,
hingga waktu telah usai untuk mu,
rasa bersalah itu akan terbawa bersamamu. 


Untuk Sahabtku.. 
yang nekat berbuat dosa 
aku selalu 
memaafkanmu..


Selasa, 06 November 2012

'Nama-mu Cahaya'

Y_ang terberkati diantara pilihan
O_leh karena hasrat kesungguhan
H_irup hembus nafas berserah pada-Mu
A_ngkat segala harap tertuju
N_amamu adalah lambang kemurahan
A_badi dalam kenangan dan kemenangan

G_emuruh dentang waktu berlari
R_ebahkan rasa tegakan nurani
A_ndai siang pandai bertutur
C_eritakan kisah bersujud syukur
I_ndah laksana kembang di taman
E_lok berparas bermahkota berlian
L_emah gemulai berucap nada
L_incah menyapa ikuti irama
A_ku bersembah pada Yang Kuasa

E_ngkau datang bawa sejuta bahagia
L_uruhkan belenggu duka nestapa
E_ngkau hadir sebagai tanda
A_ku disini untuk dia
N_yanyikan kidung penyejuk kalbu
O_h..Dikau yang memandangku sayu
R_entangkan sayapmu bermandi cahaya

T_iada lagi langkah yang tertahan
I_ndah harimu bagai lukisan
H_endaklah engkau terbang lintasi awan
U_ntukmu matahari jagat raya
M_elayanglah meraih asa




Selasa, 23 Oktober 2012

'Yang ku-kenal, yang ku-lupakan'

Bertahun telah terlewati, pijakan membawa kita pergi
jauh tinggalkan langkah awal yang pernah tertumpu
tak banyak kisah dapat dikenang
bahkan aku sudah tak mengingatnya lagi
pelarian ini tak dapat kupelankan
aku terlarut dalam pengejaran
mengikuti mimpi yang terputus
hingga tak sempat aku menoleh
masihkah engkau melihatku terseret waktu

di hentian ini aku terhempas
permainan waktu terlalu kasar untuk kusanding
kehidupan tak berlaku baik seperti pesanmu
aku hanya tak ingin jujur mengatakanya
'semua akan indah pada waktunya'
hanya berlaku pada sebagian orang saja
entahlah..tak perlu engkau mengartikanya
harapan adalah mimpi kosong
tempat segala lelah bertaut
menyimpulkan tali pristiwa tak bermakna

dalam samar angin berbisik
berhembus kabar pembawa damai
tenangkan jiwa yang bergejolak
untuk sementi waktu hingga terhempas lagi
entah untuk yang kesekian
tak sempat aku menghitung
seberapa kuat hembusan itu
dari setengah berbisik hingga terdengar menjerit
memaksaku berhenti berlari
termenung sejenak
mengenangmu
kuatkan lidahku bergetar
ucapkan nada perih penghibur duka
untuk engkau yang pernah mengenalku
aku tak benar-benar melupakanmu
seperti katamu 'tak ingin menolak, namun tak sanggup mendekat'
ah..merpati kakimu merah bukan karna luka
itu warna terindah hiasi yang tak mungkin meninggi
keseimbangan tergambar diantaranya

aku telah siap mendengar
bahkan sebelum sebuah kata terucap
aku telah sering mendengarmu
meski tak ada yang engkau katakan
sulit untuk kubedakan
engkau yang mengatakan
atau aku hanya pura-pura telah mendengar
permainan rasa selalu bergelombang
terpecah diantara bentangan kisah
berbaur dalam getaran yang terpendam
menanti terik pecahkan buih
seperti itulah kata yang ingin kuucap
bila angin senja dihari kemarin
bertiup ke arahmu
tak perlu engkau menjemput malam
itu hanyalah keheningan yang sesaat
sebelum gemuruh bertikai lagi
diantara tatapan kosong dan pikiran yang berkelana
dengarkanlah suara itu
meski perlahan
namun tak dapat kau pahami
karena tak sanggup awan bercerita
di balik mendungnya pelangi bersembunyi
dengan warna yang sengaja dibuat
agar tak kelihatan ia berpura-pura
Itu akan membuatmu berpikir kala menatapnya tertegun

waktuku tak menunggu
anggap saja aku telah mengatakan sesuatu
jangan tanyakan apa yang telah terucap
izinkan aku meminjam pikiranmu
dan berpura-pura saja mendengar
'engkau-tahu-apa-yang-ingin-kau-dengar'
jika sulit bagimu mengulanginya
rasakan saja getaranya
semua tak tampak nyata
saat mengenal dan melupakanmu
tapi senyuman itu
akan datang lagi esok pagi
sebelum musim berganti di tahun ini
engkau pernah mengenalku
yang dalam kesungguhan
segera melupakamu

sejenak...*