Di sudut malam, di tepian jalan,
Wanita tengah usia itu duduk termenung.
Sesekali matanya mengikuti laju kendaraan yang melintas di jalan.
Sudah lewat tengah malam, ia masih sanggup terjaga.
Lamunanya buyar, seorang pria pengendara motor berhenti di depanya, mematikan mesin motornya.
'Satu botol Mbak' sambil membuka jok motornya.
Dengan hati-hati wanita itu mengambil sebotol bensin dan mengambil corongnya
lalu menuangkanya ke tangki bensin motor pelangganya.
Selembar uang lima ribu rupiah diterimanya dengan senyum, 'makasih Pak' ,sahutnya perlahan.
Dia adalah wanita penjual bensin eceran yang berjualan sebelah jembatan di ruas jalan terbesar di kota ini. Pakaiannya sederhana, sebuah jaket usang menyelimuti tubuhnya, lengkap dengan kain penutup kepalanya. Pelindung yang rapuh dari hantaman angin malam.
Cahaya remang lampu jalan yang terhalang rimbun pohon perindang temani kesendirianya.
Tampak guratan di wajahnya, sisa-sisa gambaran rupa masa mudanya kian hilang.
Keriput dan kering terpapar lampu jalan.
Usianya kira-kira empat puluhan tahun.
Adakah malam memaksanya terus terjaga, hingga aku kembali melintasi,
wanita itu masih tenang menjaga malam ini.
Sudah hampir dua tahun,
pandanganku tak penah lepas ke arahnya setiap kali melewati jalan itu, kala hari telah berganti.
Kadang saya berhenti di seberangnya, memperhatikannya dalam diam yang tak disadarinya.
Sesekali juga saya berhenti di depanya, membeli sebotol bensin yang dijualnya.
Lalu duduk tak jauh darinya, pura-pura menunggu malam bersamanya.
Setelah menghabiskan sebatang rokok, kemudian saya melanjutkan perjalanan.
Awalnya kehadiranku tak terlalu diperhatikanya,
mungkin terlalu sibuk baginya mengharapkan seseorang segera berhenti untuk membeli daganganya.
Saya sendiri juga tak ingin mengganggunya, saya memilih untuk memperhatikan saja.
Namun kejenuha memaksanya untuk mulai berbagi cerita.
Suatu malam, saat saya pulang dari jenguk sahabatku, sengaja aku mampir ke tempatnya.
Aku membeli sebotol bensin, seperti biasa saya mengambil tempat tak jauh darinya untuk sekedar duduk melepas lelah. Jam di handphoneku sudah di angka 03;35, pertanda pagi hampir menjelang.
Sambil mengutak-atik hp, saya mengambil sebatang rokok, membakarnya dan menghirup dalam-dalam asapnya lalu menyemburkan asapnya tanpa rasa bersalah.
Udara dingin terhempas bercampur asap rokok dan bau asap kendaraan, menambah polusi alam ini.
Kehidupan ini makin ternodai, saya terlalu suka membuat alam ini tercemar ,pikirku.
'Mas, mau kemana? ,tanya wanita itu perlahan.
'Mau pulang Bu' ,jawabku sekenanya.
'Dimana tinggalnya' ,tanya wanita itu lagi.
Pembicaraan pun berlanjut, dengan rentetan pertanyaan dan jawaban yang saling berbalas.
Banyak yang diceritakanya, bahkan yang tak kutanyakan pun dijawabnya.
Jujur dan tak ada kesan dibuat-buat.
Penuturanya sederhana, begitulah hidup memperlakukanya, meski ia sendiri tak memintanya.
Ia berusaha keras mengikuti alur gerak kehidupan ini mengalir.
Tak jarang dia harus melawan arus, kadang juga terbentur tertahan di tiap lekukan waktu.
Ia tak menyerah, harapanya masih tersisa, meski hidup tak berlaku adil padanya.
Pusaran waktu terlalu cepat untuk dikejarnya,
Ia hanya terseret jaman, menghela udara dingin yang tercemar debu jalanan.
Sesak didadanya, teteskan seberkas air mata disudut matanya yang mulai lelah berkedip.
Entah sampai kapan ia terjaga di sisi jalan ini, berteduh diantar tiang-tiang bisu sepanjang jalan.
Semoga putaran roda yang mengukur waktu,
selalu berhenti sejenak didepanya,
hingga tiap botol yang terisi itu kembali kosong,
untuk diisi kembali.
Wanita tengah usia itu duduk termenung.
Sesekali matanya mengikuti laju kendaraan yang melintas di jalan.
Sudah lewat tengah malam, ia masih sanggup terjaga.
Lamunanya buyar, seorang pria pengendara motor berhenti di depanya, mematikan mesin motornya.
'Satu botol Mbak' sambil membuka jok motornya.
Dengan hati-hati wanita itu mengambil sebotol bensin dan mengambil corongnya
lalu menuangkanya ke tangki bensin motor pelangganya.
Selembar uang lima ribu rupiah diterimanya dengan senyum, 'makasih Pak' ,sahutnya perlahan.
Dia adalah wanita penjual bensin eceran yang berjualan sebelah jembatan di ruas jalan terbesar di kota ini. Pakaiannya sederhana, sebuah jaket usang menyelimuti tubuhnya, lengkap dengan kain penutup kepalanya. Pelindung yang rapuh dari hantaman angin malam.
Cahaya remang lampu jalan yang terhalang rimbun pohon perindang temani kesendirianya.
Tampak guratan di wajahnya, sisa-sisa gambaran rupa masa mudanya kian hilang.
Keriput dan kering terpapar lampu jalan.
Usianya kira-kira empat puluhan tahun.
Adakah malam memaksanya terus terjaga, hingga aku kembali melintasi,
wanita itu masih tenang menjaga malam ini.
Sudah hampir dua tahun,
pandanganku tak penah lepas ke arahnya setiap kali melewati jalan itu, kala hari telah berganti.
Kadang saya berhenti di seberangnya, memperhatikannya dalam diam yang tak disadarinya.
Sesekali juga saya berhenti di depanya, membeli sebotol bensin yang dijualnya.
Lalu duduk tak jauh darinya, pura-pura menunggu malam bersamanya.
Setelah menghabiskan sebatang rokok, kemudian saya melanjutkan perjalanan.
Awalnya kehadiranku tak terlalu diperhatikanya,
mungkin terlalu sibuk baginya mengharapkan seseorang segera berhenti untuk membeli daganganya.
Saya sendiri juga tak ingin mengganggunya, saya memilih untuk memperhatikan saja.
Namun kejenuha memaksanya untuk mulai berbagi cerita.
Suatu malam, saat saya pulang dari jenguk sahabatku, sengaja aku mampir ke tempatnya.
Aku membeli sebotol bensin, seperti biasa saya mengambil tempat tak jauh darinya untuk sekedar duduk melepas lelah. Jam di handphoneku sudah di angka 03;35, pertanda pagi hampir menjelang.
Sambil mengutak-atik hp, saya mengambil sebatang rokok, membakarnya dan menghirup dalam-dalam asapnya lalu menyemburkan asapnya tanpa rasa bersalah.
Udara dingin terhempas bercampur asap rokok dan bau asap kendaraan, menambah polusi alam ini.
Kehidupan ini makin ternodai, saya terlalu suka membuat alam ini tercemar ,pikirku.
'Mas, mau kemana? ,tanya wanita itu perlahan.
'Mau pulang Bu' ,jawabku sekenanya.
'Dimana tinggalnya' ,tanya wanita itu lagi.
Pembicaraan pun berlanjut, dengan rentetan pertanyaan dan jawaban yang saling berbalas.
Banyak yang diceritakanya, bahkan yang tak kutanyakan pun dijawabnya.
Jujur dan tak ada kesan dibuat-buat.
Penuturanya sederhana, begitulah hidup memperlakukanya, meski ia sendiri tak memintanya.
Ia berusaha keras mengikuti alur gerak kehidupan ini mengalir.
Tak jarang dia harus melawan arus, kadang juga terbentur tertahan di tiap lekukan waktu.
Ia tak menyerah, harapanya masih tersisa, meski hidup tak berlaku adil padanya.
Pusaran waktu terlalu cepat untuk dikejarnya,
Ia hanya terseret jaman, menghela udara dingin yang tercemar debu jalanan.
Sesak didadanya, teteskan seberkas air mata disudut matanya yang mulai lelah berkedip.
Entah sampai kapan ia terjaga di sisi jalan ini, berteduh diantar tiang-tiang bisu sepanjang jalan.
Semoga putaran roda yang mengukur waktu,
selalu berhenti sejenak didepanya,
hingga tiap botol yang terisi itu kembali kosong,
untuk diisi kembali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar