Translate

Sabtu, 20 April 2013

'Jangan Sakiti Dirimu Saat Kuingin Menyayangimu'

Waktu melambat di ujung jalan ini, 
aku letih memandang kerasnya batu jalanan yang telah kusetapaki, hanya untuk mendekat padamu. 
Engkau mungkin tak akan percaya pada alasanku melangkah, 
tertatih, terjatuh dan tersungkur. 
Terlalu asyik dirimu menikmati kesukaanmu pada kebebasan yang dititipkan padamu. 
Tak sempat engkau menoleh saat aku memandang ke arahmu. 
Aku menahan nafas, memendam segala rasa yang bergejolak. 
Ingin kusemburkan, kulepaskan mengalir menghempaskanmu 
agar engkau tahu rasanya terjatuh saat engkau tak memikirkanya. 

Kupelankan rasa, 
aku bisa memahami semuanya, 
meski tak semuanya tentangmu dapat kuterima. 
Kubiarkan waktu membawamu terbang, 
menghirup tiap detik kehidupan yang ingin kau resapi. 
Sementara aku menelusuri lorong-lorong bisu, 
tempat dulu kita goreskan kisah di setiap jengkal dinding waktu. 
Dalam diam mereka menatapku haru, 
seolah ingin bercerita, apa yang telah kau lakukan pada mereka. 
Adakah engkau telah membungkam mereka dalam pertapaan panjangnya. 
Kesedihannya tergambar jelas dari setiap coretan yang kau buat, 
hingga wajahnya berlumuran duka yang tak terungkap. 

Kemankah aku mengikutimu lagi, 
janganlah engkau bersembunyi di depan mataku. 
Kadang aku bisa melihat bayangmu, 
namun sulit bagiku mengimbangimu, 
langkahmu terlalu cepat untuk kukejar. 
Jika dua mataku memiliki batas pandang, 
paling tidak mata hatiku tak sedikitpun berkedip. 
Adakah satu cahaya selalu memantulkan dua bayang 
diantara redup mataku menembus dinding waktu. 

Aku terus berlari mendekatimu, 
untuk terus mengikutimu dangan nafas yang tersisa, 
setidaknya engkau tak hilang dari pandanganku. 
Namun sekeras apa pun aku mencoba, 
pandangan mataku tak mampu menembusi kabut. 
Aku berbisik pada angin, 
berhembuslah sekali ini saja, 
menghalau kabut yang menutupi jalanku.
 Dalam harap cemas, 
tak akan kubiarkan engkau berlari bersama dua bayangmu. 
Aku selalu punya cara untuk mendahuluimu, 
terlalu banyak lorong yang tak merasa keberatan untuk kulintasi. 
Aku hanya perlu untuk berdiam sejenak, 
dan pintu-pintu itu lalu terbuka. 

Kali ini langkahku terlalu cepat, 
dan aku telah berada di depan jalanmu. 
Aku menunggumu lewat, 
kan kupastikan tak ada lagi bayang semu yang menghalangi pandanganku. 
Sepertinya aku bosan menunggumu, 
kuputuskan untuk kembali, 
mencarimu di tempat aku melepaskan pandanganku. 
Rasaku membawaku kembali, 
keyakinanku tak pernah salah, 
aku selalu bisa menemukanmu. 
Ada sesuatu yang menuntunku, 
yang sering kubisikan padamu dan itu membuatmu tersenyum, 
meski kutahu itu hanyalah pura-pura. 
Kali ini akan kubisikan lagi, 
dan mauku bukan senyummu saja yang kudapatkan, 
tapi lebih dari itu. 
Tapi aku belum yakin saat wajahmu tak berpaling padaku, 
kucoba untuk menatap matamu. 

Perlahan aku mengangkat wajahmu, 
engkau membuatku tertegun. 
Linangan air mata itu, 
tak lagi terbendung dan mulai menetes di pipimu. 
Aku terdiam, 
aku ingin mendapatkan arti dari air mata itu. 
Engkau mulai terisak dan menangis sejadinya, 
yang membuatku terus berusaha mencari jawabanya. 

Sial bagiku, 
yang kudapatkan malah sebuah pertanyaan, 
adakah aku selalu untukmu, 
saat bayang yang menemanimu telah meninggalkanmu. 
Seperti yang engkau tahu, 
akan kuulurkan tanganku, 
menopangmu dan melangkah bersama 
dengan tujuan yang berbeda. 
Maaf bila aku harus memilih jalanku sendiri,
 engkau tak banyak memberiku banyak pilihan. 
Engkau terlalu sibuk menyakiti dirimu, saat aku ingin selamya bersamamu di sini. 
Tak perlu memohon padaku 
untuk mengagumimu 
saat nilai keindahanya 
telah kau nodai. 
Maaf aku tak pernah terkesan..., 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar