Translate

Sabtu, 26 Januari 2013

'Matahari di Terik Siang'

Waktu berputar kembali disini
Aku masih masih berharap cemas 

bukan kali ini saja
sudah dari hari kemarin dan beberapa hari belakangan ini. 
Kecemasanku bukan tak beralasan 
kata orang itu sesuatu yang wajar. 
Terkadang kita perlu untuk merasa cemas 
hanya untuk memastikan bahwa segala sesuatunya berjalan sebaik mungkin.
Pernah kualami hal seperti ini

tapi kali ini benar-benar berbeda 
aku menunggu, aku menanti, aku menahan, aku tertahan ah..aku sangat tidak ingin terlalu lama lagi. 
Mataku tidur tak terpejam
pendengaranku semakin tajam 
jangankan suara bisikan, suara hatipun aku bisa dengar. 
Ini sesuatu yang berlebihan
atau ada yang ditambahkan dari apa yang kuduga.

Aku ingin malam segera berganti pagi 

tapi malam berjalan lamban. 
Dingin yang menusuk tulang tak lagi kurasakan 
rasa penasaranku lebih cepat bergerak ketimbang jarum jam yang tergantung di dinding. 
Ingin rasanya aku tidur sejenak
namun bisikan itu sulit kutolak
seolah mengajaku bermain dalam imajinasi. 
Apakah aku berjalan dalam mimpi 
ataukah ini mimpi yang kuciptakan. 
Aku berlari seolah berjalan
berjalan diantara kuncup-kuncup waktu
tak tahan rasanya menyentuh embun di ujung daun. 
Itu tetes air terjernih persembahan malam
tergantung tak lepas menanti cahaya uapkan rasa berserinya. 
Berikan aku setetes agar dahagaku lenyap 
percikan sedikit saja bila itu berlebihan
tunjukan warna cahayamu
kilau seberkas terpancar terbatas 
bilakah engkau berbagi ?

Rasa lelah letih hilang tak berjejak 

aku selalu disini untukmu
temanimu dari pagi ke pagi lagi. 
Kuabaikan setiap seruan yang memanggilku pergi 
tak akan kubiarkan engkau menikmati sendiri bahagia dalam tangisan nanti. 
Sesederhana itu alasanku tak melangkah
lagian aku sedang tak ingin berlari.
Aku tak ingat pasti kapan semua ini kumulai, 
Aku selalu sempatkan hatiku bersamamu
bukan, bukan hati saja
jiwa dan ragaku disini untukmu dan dia nanti. 
Kututup hasratku, tak ingin aku melangkah jauhi tepian ini. 
Tak mesti aku berlayar, ketika berlabuh tak terbatasi.

Simpul waktu kian dekat, getarannya kian terasa 

hembuskan aku angin penyejuk rasa
agar kuat aku menahan nafas untuknya. 
Entah ini sesuatu yang bodoh atau sebuah pilihan konyol 
untuk pertamakalinya kugantungkan harapanku padanya. 
Biasanya aku yang menuntunmu, mengajarimu, menopangmu, 
tapi kali ini aku biarkan dirimu bertahan disuatu titik. 
Tempat semua teori, semua warisan, semua hakekat, semua dan semuanya membuktikan sesuatu, 
bahwa engkau bisa menjadikan segalanya benar dan baik-baik saja. 

Tidak pada dia
tidak pada mereka
tidak pada semuanya 
tapi pada-Nya yang menjadikan dia untukku
aku bersujud aku berserah.
Aku bersuara tak terdengar 

dia menjerit dalam bisikan 
mereka berucap memohon 
kepada-Mu aku berpaling.

Embun terakhir telah menguap

pagi beranjak siang
kehangatan mulai terasa. 
Tak sedikitpun aku merasakan panas
berteduh di bawah rindang kasih-Mu untuknya dan dia. 
Seberapa besar kesal-Mu padaku...
izinkan dia memuliakanmu dengan bahasanya. 
Biar kudengar ia menyapa, salam pertama pada alam, syukur tak terhingga untukmu.
Aku terdiam 

semua terdiam 
tak ada yang bergerak 
lurus kaku alam menahan waktu berputar 
Tak ada bayang
cahaya diantara cahaya
Tengah hari di pertengahan tahun ini
hari ke dua di pekan pertama
pertengahan musim di awal bulan
akan selalu tertulis dibawah namamu
disetiap lembaran kisah saat waktu kembali disini.
Namamu cahaya

Matahari untukmu 
engkau selalu ada tuk hangatkan rasa.
Engkau selalu dinanti kala musim berganti 

meski tak sempat, engkau memberi pelangi.
Engkau menembus awan, menghalau mendung,
Bila terikmu terlalu panas

jangan lupa menyiramnya denga air mata awan,
sediakan tetesan embun

saat sejenak engkau bersemedi
sebelum engkau kembali disini dengan senyum mu,

Untukmu Matahariku..


Tidak ada komentar:

Posting Komentar