Berawal dari ketidaktahuan, hasratku bangkit mengalahkan keraguan.
Kupertaruhkan segala apa yang kuyakini, untuk sebuah pembuktian atas apa yang sering mengganggu tidurku.
Semusim berlalu, tak jemu aku menanti, tak lelah aku bertahan.
Meski tak banyak hal yang kuketahui,
namun tak ada salahnya berusaha mencari tahu dan selalu berharap pada sebuah titik terang.Seperti kebanyakan pergerakan, selalu diawali dengan langkah pertama. Langkah ketika pilihan telah dibuat, keputusan telah diambil,
bukan karena apa yang mampu kulakukan, tapi apa yang kuingini.
Aku berkelana dalam gelap, menelusuri lorong waktu yang bisu.
Entah apa yang menuntunku dan aku tak ingat sejak kapan aku memulainya.
Yang kurasa hanyalah hasrat memiliki lagi, apa yang pernah hilang lenyap.
Sulit untuk kujelaskan, tak banyak hal segampang yang dipikirkan,
tapi cukup banyak hal juga tak sesulit yang diceritakan.
Keraguan tak menyurutkan langkahku, tak puas aku hanya menunggu saja.
Kuharus lakukan sesuatu, apa saja yang bisa kulakukan.
Dalam kesadaran penuh, aku terdiam sejenak, mengumpulkan segenap kemampuanku.
Seluruh pikiranku tertuju pada satu hal.
Aku harus pastikan untuk menghentikan semua mimpi semu.
Bentangan kenyataan di depan mataku memaksaku harus menentukan pilihan.
Kuakhiri pengelanaanku, berbalik arah dan melangkah pulang.
Temui hati yang lelah dalam penantian.
Sulit bagiku mengatakan apakah itu suatu hal yang benar atau sebuah kekeliruan terbesar,
yang kurasa ada sesuatu yang menghentikan semuanya.
Satu demi satu kusetapaki langkah itu, tak banyak yang mampu menolong,
pendirian dan harapan adalah penopang dari keyakinanku.
Semakin aku melangkah, semakin sulit kurasa,
sesuatu terus menarikku ke belakang, memaksaku untuk jatuh.
Dengan sisa kekuatan dan bersandar pada ketidaksanggupan aku terus mencoba.
Aku sudah di jalur yang benar, dan kupikir semua akan baik-baik saja.
Banyak hal terjadi diluar dugaanku, waktu bergerak tak bepola, dan terus menyeretku.
Aku lelah dan benar-benar lelah..aku terhempas.
Bukan sekali ini saja kualami, entah untuk yang ke berapa, tapi kali ini melampaui apa yang kualami sebelumnya.
Tenggelam ke dalam dasar kegelapan dan ketidakberdayaan.
Aku berteriak tapi suaraku tak didengar, aku berbisik ditengah kegaduhan hidup.
Untuk pertamakalinya dalam hidupku air mataku menetes, tak sanggup kujelaskan apa artinya.
Jika aku dikatakan gagal, itu adalah saatnya aku merasa seluruh hidupku hancur.
Harapanku menguap, mimpiku terputus, jiwaku hilang dan semuanya pupus.
Pertaruhanku menghancurkan hidupku, tak ada lagi yang berharga yang kumiliki, bahkan pikiranku kosong.
Tak mampu keceritakan apa yang kurasakan, kesal, marah, benci, dendam, kecewa, sesak, hilang, tenggelam
tercampur dalam rongga dada.
Aku berdiri tak merasakan kakiku,
aku terluka tak mersakan sakit,
aku marah tak bisa membentak,
diam adalah pilihan terbaik saat itu.
Bencana terbesar sedang kualami, untuk waktu yang sangat lama.
Suram hariku diawal pagi, adakah senja dapat kusapa ??
Kupertaruhkan segala apa yang kuyakini, untuk sebuah pembuktian atas apa yang sering mengganggu tidurku.
Semusim berlalu, tak jemu aku menanti, tak lelah aku bertahan.
Meski tak banyak hal yang kuketahui,
namun tak ada salahnya berusaha mencari tahu dan selalu berharap pada sebuah titik terang.Seperti kebanyakan pergerakan, selalu diawali dengan langkah pertama. Langkah ketika pilihan telah dibuat, keputusan telah diambil,
bukan karena apa yang mampu kulakukan, tapi apa yang kuingini.
Aku berkelana dalam gelap, menelusuri lorong waktu yang bisu.
Entah apa yang menuntunku dan aku tak ingat sejak kapan aku memulainya.
Yang kurasa hanyalah hasrat memiliki lagi, apa yang pernah hilang lenyap.
Sulit untuk kujelaskan, tak banyak hal segampang yang dipikirkan,
tapi cukup banyak hal juga tak sesulit yang diceritakan.
Keraguan tak menyurutkan langkahku, tak puas aku hanya menunggu saja.
Kuharus lakukan sesuatu, apa saja yang bisa kulakukan.
Dalam kesadaran penuh, aku terdiam sejenak, mengumpulkan segenap kemampuanku.
Seluruh pikiranku tertuju pada satu hal.
Aku harus pastikan untuk menghentikan semua mimpi semu.
Bentangan kenyataan di depan mataku memaksaku harus menentukan pilihan.
Kuakhiri pengelanaanku, berbalik arah dan melangkah pulang.
Temui hati yang lelah dalam penantian.
Sulit bagiku mengatakan apakah itu suatu hal yang benar atau sebuah kekeliruan terbesar,
yang kurasa ada sesuatu yang menghentikan semuanya.
Satu demi satu kusetapaki langkah itu, tak banyak yang mampu menolong,
pendirian dan harapan adalah penopang dari keyakinanku.
Semakin aku melangkah, semakin sulit kurasa,
sesuatu terus menarikku ke belakang, memaksaku untuk jatuh.
Dengan sisa kekuatan dan bersandar pada ketidaksanggupan aku terus mencoba.
Aku sudah di jalur yang benar, dan kupikir semua akan baik-baik saja.
Banyak hal terjadi diluar dugaanku, waktu bergerak tak bepola, dan terus menyeretku.
Aku lelah dan benar-benar lelah..aku terhempas.
Bukan sekali ini saja kualami, entah untuk yang ke berapa, tapi kali ini melampaui apa yang kualami sebelumnya.
Tenggelam ke dalam dasar kegelapan dan ketidakberdayaan.
Aku berteriak tapi suaraku tak didengar, aku berbisik ditengah kegaduhan hidup.
Untuk pertamakalinya dalam hidupku air mataku menetes, tak sanggup kujelaskan apa artinya.
Jika aku dikatakan gagal, itu adalah saatnya aku merasa seluruh hidupku hancur.
Harapanku menguap, mimpiku terputus, jiwaku hilang dan semuanya pupus.
Pertaruhanku menghancurkan hidupku, tak ada lagi yang berharga yang kumiliki, bahkan pikiranku kosong.
Tak mampu keceritakan apa yang kurasakan, kesal, marah, benci, dendam, kecewa, sesak, hilang, tenggelam
tercampur dalam rongga dada.
Aku berdiri tak merasakan kakiku,
aku terluka tak mersakan sakit,
aku marah tak bisa membentak,
diam adalah pilihan terbaik saat itu.
Bencana terbesar sedang kualami, untuk waktu yang sangat lama.
Suram hariku diawal pagi, adakah senja dapat kusapa ??
Tidak ada komentar:
Posting Komentar