Translate

Jumat, 12 Oktober 2012

Kisah Hamnor di pulau Komodo

 Kisah Hamnor di pulau Komodo - Antaranews.com


Kisah Hamnor di pulau Komodo

Mulyo Sunyoto


Jakarta (ANTARA News) - Hamnor (42) dan kawan-kawan memandang dengan tatapan hampa pada hamparan luas laut yang beriak, mengalun dalam buaian angin senja.

Sore itu mereka duduk-duduk di gazebo, di bibir pantai, dekat gerbang masuk Taman Nasional Komodo (TNK) dengan wajah lesu. Sejak pagi mereka hanya makan nasi sekali, tanpa lauk-pauk.

"Ya kondisi ekonomi kami memang pas-pasan. Kami jualan cindera mata untuk turis tapi turis jarang yang beli," kata Hamnor.

Bersama belasan penduduk asli Pulau Komodo lain, Hamnor berjualan patung komodo dari kayu. Harganya bervariasi. Ada yang berukusan 30 cm seharga Rp 50 ribu hingga yang berukuran 2 m senilai Rp 1 juta.

Patung-patung kayu komodo itu dibuat oleh para pengrajin lokal dengan kadar estetika sedang-sedang saja. Dipahat dari kayu yang didatangkan dari luar Pulau Komodo.

Dengan peralatan pahat minim dan sederhana, dan teknik pemahatan yang sederhana pula, mereka menghasilkan patung-patung komodo yang minimalis.Tanpa ornamen dan kreativitas pahatan yang bisa memukau calon pembeli.

Jauh sekali perbedaan kualitas seni pahatnya jika dibandingkan karya pahat produksi seniman pahat Bali, yang menghasilkan patung-patung dengan bentuk yang eksotis seperti patung burung garuda atau patung perempuan molek berukir yang ekspresionistik.

Bentuk dan karakter sosok Komodo yang relatif miskin variasi membuat karya patung penduduk Pulau Komodo tak sanggup bersaing dengan kecanggihan seni pahat Bali.

Seniman patung Bali lebih leluasa mengeksplorasi gaya dan pola obyek yang hendak digarap. Mereka bisa memahat kayu untuk menghasilkan patung elang yang sedang bertarung dengan kobra atau patung hewan aneka rupa.

Yang menyedihkan, sebagian besar turis yang mengunjungi Pulau Komodo adalah turis yang menjejakkan kaki mereka terlebih dulu di Pulau Bali, yang juga menawarkan beragam patung cenderamata, termasuk patung-patung komodo dalam berbagai pose dengan kualitas estetika pahatan yang jauh lebih beraroma artistik.

"Kami pernah mendapat pembinaan dari seniman Bali untuk menghasilkan patung komodo," kata Salami (55), salah satu pematung Pulau Komodo yang mengeluhkan minimnya peralatan pahat yang mereka miliki.

Salami mengatakan menjadi seniman pahat komodo tidak memberikan hasil yang menggembirakan. Sering hasil memahat habis untuk membeli bahan baku seperti kayu jati yang harus didatangkan dari luar Pulau Komodo.

Ketika peralatan pahat yang digunakan bertahun-tahun mulai aus, Salami hanya berharap mendapat bantuan dari pihak lain yang bersimpati seperti pegiat lembaga swadaya masyarakat.

Di pulau Komodo, tepatnya di perkampungan kumuh di kawasan itu, ada sekitar 400 kepala keluarga, dengan total jumlah penduduk sekitar 1.500 jiwa.

Pulau Komodo yang terkenal di seantero dunia lewat kemasyhuran hewan purba itu ternyata tak sanggup mengentaskan warganya dari belitan kemiskinan struktural.

Tanahnya yang tandus dan perairan lautnya yang dicirikan oleh adanya pulau-pulau kecil tak memberikan sumber makanan berlimpah.

Di pulau ini tumbuh pohon gebang yang menghasilkan sejenis tepung sagu tapi penduduknya lebih senang mengonsumsi nasi sebagai makanan pokok.

Sebagian besar warga di sini bermata pencaharian dengan menjadi nelayan. Namun sedihnya, hanya selama tiga bulan laut di kawasan Labuan Bajo, Manggarai Barat.

memberikan hasil tangkapan yang memadai. Selebihnya, selama sembilan bulan, mereka menganggur tak melaut.

Dengan kondisi demikian, warga Pulau Komodo tak mampu menyekolahkan anak-anak mereka melebihi jenjang sekolah menengah pertama.

"Di pulau ini hanya ada sekolah dasar dan satu SMP yang berdiri tiga tahun lalu," kata ustad Majid (49) yang berputrta lima anak.

Majid mengatakan selama ini aparat pemerintah setempat dan para pegiat LSM sudah memberikan bantuan modal kerja ala kadarnya namun bantuan itu belum mampu membebaskan mereka dari belitan kemelaratan.

Para penghuni Pulau Komodo itu berukim di bibir pantai dalam gugusan kampung-kampung nelayan. Rumah mereka terbuat dari kayu, sebagian tampak compang-camping.

Di sebuah rumah panggung yang reyot, serorang anak kecil sedang menangis tak henti-hentinya sementara sang ibu tak menggubris tangisan itu. Ibu itu terkulai di balai-balai dengan tikar yang terkoyak, rajutan tepiannya terburai.

Di lingkungan warga Pulau Komodo itu, semua kebutuhan pokok harus didatangkan dari luar pulau, sehingga harganya semakin mahal. Untuk membeli beras sekilogram dalam kualitas sedang, mereka harus mengeluarkan sedikitnya Rp 10 ribu, padahal di Kupang, NTT, komoditas serupa bisa didapat dengan harga Rp8 ribu.

Setiap pekan anak-anak di Pulau Komodo menyaksikan turis dari mancanegara datang dengan kapal pesiar yang mewah. Namun, kekayaan para turis itu tak menetes sedikit pun ke mereka. "Mereka jarang membeli sovenir di sini," kata Hamnor. `Mungkin mereka sudah membeli sovenir saat di Bali. kerajinan Bali memang lebih bagus dan lebih halus ukiran dan pahatannya," tambahnya.

Meskipun saat ini merasa hidup prihatin, Hamnor masih punya harapan. Dia ingin Pemerintah membangun sekolah menengah atas di Pulau Komodo agar anak-anak di sana mendapat pendidikan yang lebih tinggi.

"Janganlah anak-anak sekarang seperti kami yang sudah dewasa, yang berpendidikan dasar pun tak tamat," katanya.

Barangkali demikianlah ironi Pulau Komodo, yang tersohor karena dihuni hewan purba, namun penduduk yang juga menghuni pulau itu hidup dalam kondisi serba kekurangan. Pulau Komodo yang tak cocok untuk tanaman pangan dan langkanya tangkapan hasil laut seolah mengabadikan kemiskinan penduduk Pulau Komodo.

Apakah negara berpangku tangan menihat nasib Hamnor dan kawan-kawan? Tentu tidak. Setidaknya, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Pangestu sudah mendengar bahwa para pengrajin patung komodo ingin mendapat peralatan kerja yang lebih baik, yang bisa mempercepat dan memperhalus hasil pahatan mereka.

Kepada para staf Kementerian Parekraf, Mari sudah memberi instruksi serius: "Catat keperluan mereka, anggarkan semuan itu. Tahun depan harus sudah terpenuhi aspirasi mereka," kata Mari yang juga ekonom itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar