Tahun telah berganti, separuh usiaku telah kujalani dengan segala
kepahitan dan kesulitan yang entah sampai kapan akan berakhir. Dan aku
berpikir, mungkin ini semua tak akan pernah usai.
Masa kecilku kulalui hanya sebentar saja, aku tak terlalu ingat, bukan karena aku melupakanya, tapi aku tak ingin mengingtnya. Bagaimana tidak, bagi sebagian besar anak-anak, itulah masa-masa terindah dalam hidupnya. Menghabiskan waktu dengan bermain, dengan keceriaan, dengan kegembiraan, tanpa beban, tanpa rasa duka.
Namun sial bagiku, itulah awal masa dewasaku yang terpaksa harus kujalani.
Menginjak usia remaja, aku berusaha keras, bahkan melampaui kemampuanku. Aku mencoba bangkit dari keterpurukan masa kecilku, dengan sebuah harapan, kiranya suatu saat nanti aku bisa mengubah bintangku.
Apa saja kulakukan, semua hal ku usahakan, bertarung dengan waktu, mengejar mimpi dan meraih pelangi. Kadang aku lupa untuk memikirkan diriku, bahwa yang kulakukan telah melampaui kekuatanku, hingga aku terhempas oleh jaman yang makin gila kurasa.
Cemoohan, ejekan, kata-kata kasar, bukanlah sesuatu yang baru bagiku. Bagiku harga diri tidaklah penting, karena aku sadar, apa yang berharga dalam diriku? Terkadang aku harus mempertaruhkan nyawaku agar bisa bertahan demi melanjutkan hidup.
Kegagalan sudah sangat akrab dengan diriku, pecundang adalah predikat yang pantas untuk diriku.
Kenapa begitu buruk hasil yang kudapat??
Itulah pertanyaan yang sering kutanyakan pada diriku. Lalu aku mencari jawabanya, sekedar ingin tahu saja, agar rasa penasaranku tak melebihi kutukan yang kuterima.
Memasuki masa mudaku, keadaan makin parah. Aku terjebak dalam lingkar nasib yang telah disiapkan untukku.
Aku tak pernah lelah untuk mencoba bangkit kembali, walau kutahu semua akan sia-sia. Tak ingi aku menerimanya begitu saja, aku memprotes diriku, kenapa begitu sulit kujalani hidup ini.
Ketika pikiran itu muncul, ingin rasanya aku memberontak, melepaskan diri dari garis nasib yang menimpaku.
Namun apalah dayaku, aku hanyalah manusia dengan tingkat kegagalan dan kesialan yang tertinggi dari semua orang yang kukenal.
Memasuki usia dewasa, aku pernah berharap, hidupku sedikit berubah.
Aku mengusahakan dan menampilkan segala usah, niat dan keiinginan, dan melakukan yang terbaik dariku.
Lagi-lagi hasilnya minus melewati angka nol. Tak sedikitpun rasa kecewa dan putus asa dalam diriku. Walau sebenarnya, jika disejajarkan dengan orang lain, langkahku kian jauh mundur dari garis start.
Dan kini waktu berada di tengah, masa lalu telah kulewati, dan aku berada di masa kini dengan waktu yang sekarang.
Harapanku masih tersisa, yang ini mungkin enggan pergi. Atau hanya perasaanku saja, jika aku masih punya masa depan? Mimpiku tak lagi kugantungkan setinggi langit. Aku hanya meletakanya diantara kedua tanganku. Agar garis tanganku tahu, bahwa aku sudah terlihat gagal dimasa mendatang.
Hidupku telah hancur, aku hanya terseret oleh waktu agar bisa mereguk pahitnya aroma kegagalan hidupku dimasa yang akan datang.
Saat aku tak tertidur, anagnku melayang, pikiranku kacau dan tatapan kosong itu, mengisyaratkan makna bahwa hidupku tak akan pernah berubah dari waktu ke waktu.
Nasibku telah ditentukan, dan jauh diatas sana, Tuhan tak ingin mengotori tangannya yang Kudus untuk mencampuri urusan saya.
Tak mengapa, kan kubagi pada isi kepalaku, agar kiranya dia berbisik pada hati kecilku tentang semua ini.
Bali, 12 01 2012
Masa kecilku kulalui hanya sebentar saja, aku tak terlalu ingat, bukan karena aku melupakanya, tapi aku tak ingin mengingtnya. Bagaimana tidak, bagi sebagian besar anak-anak, itulah masa-masa terindah dalam hidupnya. Menghabiskan waktu dengan bermain, dengan keceriaan, dengan kegembiraan, tanpa beban, tanpa rasa duka.
Namun sial bagiku, itulah awal masa dewasaku yang terpaksa harus kujalani.
Menginjak usia remaja, aku berusaha keras, bahkan melampaui kemampuanku. Aku mencoba bangkit dari keterpurukan masa kecilku, dengan sebuah harapan, kiranya suatu saat nanti aku bisa mengubah bintangku.
Apa saja kulakukan, semua hal ku usahakan, bertarung dengan waktu, mengejar mimpi dan meraih pelangi. Kadang aku lupa untuk memikirkan diriku, bahwa yang kulakukan telah melampaui kekuatanku, hingga aku terhempas oleh jaman yang makin gila kurasa.
Cemoohan, ejekan, kata-kata kasar, bukanlah sesuatu yang baru bagiku. Bagiku harga diri tidaklah penting, karena aku sadar, apa yang berharga dalam diriku? Terkadang aku harus mempertaruhkan nyawaku agar bisa bertahan demi melanjutkan hidup.
Kegagalan sudah sangat akrab dengan diriku, pecundang adalah predikat yang pantas untuk diriku.
Kenapa begitu buruk hasil yang kudapat??
Itulah pertanyaan yang sering kutanyakan pada diriku. Lalu aku mencari jawabanya, sekedar ingin tahu saja, agar rasa penasaranku tak melebihi kutukan yang kuterima.
Memasuki masa mudaku, keadaan makin parah. Aku terjebak dalam lingkar nasib yang telah disiapkan untukku.
Aku tak pernah lelah untuk mencoba bangkit kembali, walau kutahu semua akan sia-sia. Tak ingi aku menerimanya begitu saja, aku memprotes diriku, kenapa begitu sulit kujalani hidup ini.
Ketika pikiran itu muncul, ingin rasanya aku memberontak, melepaskan diri dari garis nasib yang menimpaku.
Namun apalah dayaku, aku hanyalah manusia dengan tingkat kegagalan dan kesialan yang tertinggi dari semua orang yang kukenal.
Memasuki usia dewasa, aku pernah berharap, hidupku sedikit berubah.
Aku mengusahakan dan menampilkan segala usah, niat dan keiinginan, dan melakukan yang terbaik dariku.
Lagi-lagi hasilnya minus melewati angka nol. Tak sedikitpun rasa kecewa dan putus asa dalam diriku. Walau sebenarnya, jika disejajarkan dengan orang lain, langkahku kian jauh mundur dari garis start.
Dan kini waktu berada di tengah, masa lalu telah kulewati, dan aku berada di masa kini dengan waktu yang sekarang.
Harapanku masih tersisa, yang ini mungkin enggan pergi. Atau hanya perasaanku saja, jika aku masih punya masa depan? Mimpiku tak lagi kugantungkan setinggi langit. Aku hanya meletakanya diantara kedua tanganku. Agar garis tanganku tahu, bahwa aku sudah terlihat gagal dimasa mendatang.
Hidupku telah hancur, aku hanya terseret oleh waktu agar bisa mereguk pahitnya aroma kegagalan hidupku dimasa yang akan datang.
Saat aku tak tertidur, anagnku melayang, pikiranku kacau dan tatapan kosong itu, mengisyaratkan makna bahwa hidupku tak akan pernah berubah dari waktu ke waktu.
Nasibku telah ditentukan, dan jauh diatas sana, Tuhan tak ingin mengotori tangannya yang Kudus untuk mencampuri urusan saya.
Tak mengapa, kan kubagi pada isi kepalaku, agar kiranya dia berbisik pada hati kecilku tentang semua ini.
Bali, 12 01 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar