Terimakasih Jiwaku…
oleh stAr man
Aku terbangun dari tidurku, di pagi buta, sebelum matahari menampakan diri di ufuk timur. Aku menoleh ke arah jam dinding, masih jam 05.00 pagi. Rasa capek semalam yang kurasakan setelah seharian kemarin bekerja telah larut dalam tidur pulasku. Segar sekali rasanya, meski baru kali ini aku bangun pagi. Padahal biasanya aku terbangun karena suara musik tetanggaku yang punya kebiasaan menyetel musik keras-keras. Kuakui aku memang sering telat bangun pagi, rasanya malam begitu singkat bagiku akhir-akhir ini. Bahkan untuk bermimpi saja aku tak sempat, kalaupun sempat, di ujung mimpi aku terjaga dan itupun sudah hampir siang. Hariku kacau saat aku sedang terjaga, mataku tak sanggup tuk melihat keterasingan ini. Sepertinya aku butuh sesuatu atau seseorang yang bisa bangunkan aku sebelum aku melanjutkan tidurku lagi.
Aku masih berbaring di tempat tidurku, kuterdiam sejenak dan sekilas teringat bahwa ada bisikan yang baru saja membangunkanku. “Bangunlah…hari sudah pagi” bisiknya di telingaku. Aku menoleh ke kiri dan kanan, tak seorangpun yang terlihat kecuali diriku sendiri ditemani beberapa perabotan dan gambar di dinding.
Lalu suara siapa yang berbisik di telingaku?
Kemudian aku turun dari tempat tidurku, kulihat pintu kamar masih terkunci seperti saat aku menutupnya semalam., dan aku mengintip keluar jendela, langit masih belum terlalu terang.
Aku kembali duduk di tepi tempat tidur, mencoba tuk mengingat kembali kata-kata yang berbisik di telingaku.
Aku makin penasaran, bukan sekali ini saja aku mendengar bisikan yang mengingatkanku. Suara itu kerap kudengar, dan rasanya tak terlalu asing bagiku. Namun ingatanku tak cukup tuk mengenali suara itu,.
Masih dalam kebingunganku, aku mencoba tuk mengingat-ingat lagi..
Apa mungkin itu suara Malaikat..ah rasanya aku bukan orang baik-baik, dosaku terlalu banyak.
Jika itu suara hati, mungkinkah dia mau membangunkan aku dari tidurku?
Banyak pertanyaan dalam pikiranku yang tak bisa kujawab sendiri.
Sesesaat aku terdiam, dan tiba-tiba ingatanku mengenali suara itu. Ternyata suara itu adalah suaraku sendiri…,
ya..itu memang suaraku, suara yang selalu kudengar saat aku mengatakan sesuatu.
Tapi..bagaimana ini bisa terjadi, apakah aku berbicara dengan diriku sendiri barusan?
Oh..itu tak mungkin, aku masih sehat-sehat saja dan belum ada tanda-tanda aku gila
Ataukah itu suara jiwaku……?? tapi kenapa aku menebaknya seperti itu?
apakah aku mengenali jiwaku, lalu dimanakah dia berada sehingga aku tak bisa melihatnya?
Aku memang pernah membaca buku tentang kejiwaan, tapi tak terlalu kupahami.
Aku terdiam lagi, pikiranku mulai tenang…dalam keyakinanku aku menyimpulkan bahwa itu memang suara jiwaku. Dalam diriku jiwaku hidup dan bicara padaku. Tak bisa kulihat, dan tak dapat kusentuh namun terlalu akrab dan begitu dekat untuk kudengar bisikanya.
Tanpa kusadari air mataku menetes di pipiku, aku merasa sangat bersalah dan sedih pada diriku sendiri yang payah ini. Aku gelisah dalam kesendirianku. rasanya tak ada yang ingin kulakukan. Aku hanya terdiam, pikiranku melayang jauh. Semakin lama aku merasa sedih sendiri, tak ada sedikitpun suara yang kudengar disekelilingku. Waktu terasa terhenti, semuanya kaku, hening...dan senyap.
Dalam keharuanku sebaris kalimat terucap dari hati…maafkan aku jiwaku….
Aku terlalu bodoh untuk memahamimu, terlalu buta untuk melihatmu, dan aku terlalu kotor untuk bisa menyentuhmu. Terlalu lama aku lupa untuk menyapamu, maafkan aku yang tak pernah sadar dari kesombonganku. Aku adalah kumpulan daging yang dialiri darah yang terhubung saraf.. di topang oleh sekumpulan tulang.., terbungkus kulit yang miliki rupa, namun aku telah lupa siapakah pemilikku.
Aku menangis sejadinya dalam hatiku, kuingin menjerit, teriakan kebodohanku..tapi suaraku hilang dalam kesedihan. Sejenak aku berduka atas diriku yang malang, pikiranku melayang entah kemana. Hatiku beku, aku tergagap dalam kesendirian, kesedihan menusuk pikiranku, mencabik nurani yang tertingal, hingga aku merasa lemas dan terjerembab di depan diriku sendiri.
Apa yang terjadi dengan diriku, aku merasa hampa, kekosongan yang menyelimuti dukakau. Tubuhku terhimpit diantara dinding pikiranku, otakku membeku.., ingatanku lepas dari tubuhku, aku melayang dalam ruang waktu yang kosong…
Tak bisa kutebak, dalam setengah sadarku, samar kulihat seseorang menghampiriku. Dia tersenyum…dan semakin mendekat ke arahku. Semakin dia mendekat, wajahnya semakin jelas kelihatan. Dia masih tetap tersenyum.., dan kali ini senyuman itu begitu manis terlihat.
Tapi wajahnya..?? Oh..aku tak percaya.., wajahnya adalah orang yang kukenal.
Darahku mendesir, hirup nafasku tertahan di dada, dan mataku sedikitpun tak ingin berkedip. Aku terkejut.., dia yang datang adalah aku.., ya…aku melihat diriku di hadapanku. Aku bertemu dengan diriku sendiri.
Aku semakin tak percaya, bagaimana ini bisa terjadi ?? Apakah ada aku yang lain?? Apakah aku sudah gila?? Ataukah aku sudah mati, hingga aku bisa melihat diriku??
Yang lebih membuatku terkejut adalah ketika dia menyapaku.
Suaranya lembut..dengan penuturan yang jelas kudengar, katanya “hei..ini aku, sambil menyebutkan namaku”. Aku masih terbengong.., lanjutnya “sudahlah..waktu belum usai,
Ingatlah..aku tak akan pernah meninggalkanmu…
Aku hanya terdiam mendengarnya, lalu dia melangkah mendekatiku. Kini kami berhadapan, namun dia tak menghentikan langkahnya. Aku tak bisa bergerak, tubuhku kaku..dia tetap tersenyum. Bisa kurasakan tubuhku tertahan saat dia menerobos dan masuk dalam diriku. Tubuhku bergetar hebat, ada kekuatan yang mengguncang sekujur tubuhku. Seketika itu juga aku berteriak dan beberapa saat kemudian, saat aku membuka mataku, kepalaku sedikit terasa sakit, ternyata aku sudah terbaring di lantai kamarku. Aku terjatuh dari posisi dudukku di tempat tidur, aku kaget setengah tak percaya, apa yang baru saja terjadi dengan diriku.
Lalu aku bergegas bangun, jam dinding sudah menunjukan pukul enam pagi. Aku meraba kepalaku.., masih kurasakan gelombang helai rambut di telapak tanganku. Lalu tanganku pindah ke telinga, hidung, bibir, pipi, dagu…semuanya masih terasa ada. Cepat-cebap aku berbalik ke arah cermin, masih terlihat bayangan diriku di balik cermin. Aku memukuli kedua pipiku, dan masih terasa sakit. Kulihat kedua kakiku masih menempel di lantai, aku hanya memastikan bahwa aku tidak sedang bermimpi. Setelah kupastikan semuanya masih utuh, sambil tersenyum aku mengelus dadaku, oh..ternyata aku belum mati, pikirku. Aku hanya tersenyum sendiri, konyol rasanya memandangi diriku yang tiba-tiba panik dengan apa yang baru saja terjadi. Jujur saja, ini kali pertamanya dalam hidupku mengalami hal seperti ini. Tak bisa kubedakan, apakah itu mimpi atau kenyataan yang jelas aku masih dapat bicara dan melihat hingga sampai saat ini.
Sesaat kemudian kurebahkan tubuhku diatas tempat tidurku, kudekap kepalaku dengan kedua telapak tanganku. “Terimakasih jiwaku… engkau telah kembali”.ucapku. Kali ini ucapanku benar-benar bersuara dan kudengar sendiri. Itu kulakukan agar aku mengenali suaraku sendiri. Terimakasih telah setia menemani ragaku, walau kutahu ragaku miskin, namun engkau jiwaku tak pernah lepas dari ragaku. Saat kesedihan menghampiri, engkau menghiburku. Temani aku dalam kesendirianku, mengingatkan aku ketika aku salah memahami diriku dan orang lain. Engkau menaklukan emosi dan hasrat ragaku yang liar, kala aku terpesona oleh keindahan dunia. Enkau menuntun langkah kakiku, tajamkan tatapan mataku, pulihkan pendengaranku dan mencuci otakku dari segala kenistaan.
Engkau laksana matahari, tapi tak seperti matahari karena tak ada siang maupun malam bagimu, engkau setia mengikuti ragaku berlari dan berhenti kembali.
Kau bagai pelita yang menerangi kegelapan malamku, tapi engkau lebih dari sekedar menerangi saja tapi juga hangatkan aku dan tak pernah padam sekalipun badai menerjang. Kau seperti angin, tak dapat kusentuh, tak dapat kulihat namun kubisa rasakan hembus belai bisikanmu terdengar sendu damaikan kalbu.
Betapa beruntungnya diriku, engkau jiwaku..pemilik ragaku. Engkau jiwaku sahabatku, ingin kusalami engau setiap waktu dan kuceritakan segala kisahku. Engkau jiwaku kekasihku ingin kudekap selalu, kubelai mesra dalam kehangatan kasih sayangku. Engkau jiwaku bintang hatiku, engkau ada sebagai penunjuk dalam kegelapan agar aku tak tersesat dalam waktu.
Terima kasihku untukmu jiwaku…
janganlah engkau pergi sebelum waktuku usai….
Dan bila suatu saat nanti,
ketika waktumu tiba…
engkau ingin lepas dari ragaku,
tolong beri tahu aku..
atau isyaratkan sebuah tanda
agar aku bisa titipkan kisahku padamu
dan bawalah semua ceritaku
bersama kepergianmu...
*********
Inilah kisahku, maafkan aku jika aku lupa membuatnya sempurna.
….and what your story on November rain…..??
oleh stAr man
Aku terbangun dari tidurku, di pagi buta, sebelum matahari menampakan diri di ufuk timur. Aku menoleh ke arah jam dinding, masih jam 05.00 pagi. Rasa capek semalam yang kurasakan setelah seharian kemarin bekerja telah larut dalam tidur pulasku. Segar sekali rasanya, meski baru kali ini aku bangun pagi. Padahal biasanya aku terbangun karena suara musik tetanggaku yang punya kebiasaan menyetel musik keras-keras. Kuakui aku memang sering telat bangun pagi, rasanya malam begitu singkat bagiku akhir-akhir ini. Bahkan untuk bermimpi saja aku tak sempat, kalaupun sempat, di ujung mimpi aku terjaga dan itupun sudah hampir siang. Hariku kacau saat aku sedang terjaga, mataku tak sanggup tuk melihat keterasingan ini. Sepertinya aku butuh sesuatu atau seseorang yang bisa bangunkan aku sebelum aku melanjutkan tidurku lagi.
Aku masih berbaring di tempat tidurku, kuterdiam sejenak dan sekilas teringat bahwa ada bisikan yang baru saja membangunkanku. “Bangunlah…hari sudah pagi” bisiknya di telingaku. Aku menoleh ke kiri dan kanan, tak seorangpun yang terlihat kecuali diriku sendiri ditemani beberapa perabotan dan gambar di dinding.
Lalu suara siapa yang berbisik di telingaku?
Kemudian aku turun dari tempat tidurku, kulihat pintu kamar masih terkunci seperti saat aku menutupnya semalam., dan aku mengintip keluar jendela, langit masih belum terlalu terang.
Aku kembali duduk di tepi tempat tidur, mencoba tuk mengingat kembali kata-kata yang berbisik di telingaku.
Aku makin penasaran, bukan sekali ini saja aku mendengar bisikan yang mengingatkanku. Suara itu kerap kudengar, dan rasanya tak terlalu asing bagiku. Namun ingatanku tak cukup tuk mengenali suara itu,.
Masih dalam kebingunganku, aku mencoba tuk mengingat-ingat lagi..
Apa mungkin itu suara Malaikat..ah rasanya aku bukan orang baik-baik, dosaku terlalu banyak.
Jika itu suara hati, mungkinkah dia mau membangunkan aku dari tidurku?
Banyak pertanyaan dalam pikiranku yang tak bisa kujawab sendiri.
Sesesaat aku terdiam, dan tiba-tiba ingatanku mengenali suara itu. Ternyata suara itu adalah suaraku sendiri…,
ya..itu memang suaraku, suara yang selalu kudengar saat aku mengatakan sesuatu.
Tapi..bagaimana ini bisa terjadi, apakah aku berbicara dengan diriku sendiri barusan?
Oh..itu tak mungkin, aku masih sehat-sehat saja dan belum ada tanda-tanda aku gila
Ataukah itu suara jiwaku……?? tapi kenapa aku menebaknya seperti itu?
apakah aku mengenali jiwaku, lalu dimanakah dia berada sehingga aku tak bisa melihatnya?
Aku memang pernah membaca buku tentang kejiwaan, tapi tak terlalu kupahami.
Aku terdiam lagi, pikiranku mulai tenang…dalam keyakinanku aku menyimpulkan bahwa itu memang suara jiwaku. Dalam diriku jiwaku hidup dan bicara padaku. Tak bisa kulihat, dan tak dapat kusentuh namun terlalu akrab dan begitu dekat untuk kudengar bisikanya.
Tanpa kusadari air mataku menetes di pipiku, aku merasa sangat bersalah dan sedih pada diriku sendiri yang payah ini. Aku gelisah dalam kesendirianku. rasanya tak ada yang ingin kulakukan. Aku hanya terdiam, pikiranku melayang jauh. Semakin lama aku merasa sedih sendiri, tak ada sedikitpun suara yang kudengar disekelilingku. Waktu terasa terhenti, semuanya kaku, hening...dan senyap.
Dalam keharuanku sebaris kalimat terucap dari hati…maafkan aku jiwaku….
Aku terlalu bodoh untuk memahamimu, terlalu buta untuk melihatmu, dan aku terlalu kotor untuk bisa menyentuhmu. Terlalu lama aku lupa untuk menyapamu, maafkan aku yang tak pernah sadar dari kesombonganku. Aku adalah kumpulan daging yang dialiri darah yang terhubung saraf.. di topang oleh sekumpulan tulang.., terbungkus kulit yang miliki rupa, namun aku telah lupa siapakah pemilikku.
Aku menangis sejadinya dalam hatiku, kuingin menjerit, teriakan kebodohanku..tapi suaraku hilang dalam kesedihan. Sejenak aku berduka atas diriku yang malang, pikiranku melayang entah kemana. Hatiku beku, aku tergagap dalam kesendirian, kesedihan menusuk pikiranku, mencabik nurani yang tertingal, hingga aku merasa lemas dan terjerembab di depan diriku sendiri.
Apa yang terjadi dengan diriku, aku merasa hampa, kekosongan yang menyelimuti dukakau. Tubuhku terhimpit diantara dinding pikiranku, otakku membeku.., ingatanku lepas dari tubuhku, aku melayang dalam ruang waktu yang kosong…
Tak bisa kutebak, dalam setengah sadarku, samar kulihat seseorang menghampiriku. Dia tersenyum…dan semakin mendekat ke arahku. Semakin dia mendekat, wajahnya semakin jelas kelihatan. Dia masih tetap tersenyum.., dan kali ini senyuman itu begitu manis terlihat.
Tapi wajahnya..?? Oh..aku tak percaya.., wajahnya adalah orang yang kukenal.
Darahku mendesir, hirup nafasku tertahan di dada, dan mataku sedikitpun tak ingin berkedip. Aku terkejut.., dia yang datang adalah aku.., ya…aku melihat diriku di hadapanku. Aku bertemu dengan diriku sendiri.
Aku semakin tak percaya, bagaimana ini bisa terjadi ?? Apakah ada aku yang lain?? Apakah aku sudah gila?? Ataukah aku sudah mati, hingga aku bisa melihat diriku??
Yang lebih membuatku terkejut adalah ketika dia menyapaku.
Suaranya lembut..dengan penuturan yang jelas kudengar, katanya “hei..ini aku, sambil menyebutkan namaku”. Aku masih terbengong.., lanjutnya “sudahlah..waktu belum usai,
Ingatlah..aku tak akan pernah meninggalkanmu…
Aku hanya terdiam mendengarnya, lalu dia melangkah mendekatiku. Kini kami berhadapan, namun dia tak menghentikan langkahnya. Aku tak bisa bergerak, tubuhku kaku..dia tetap tersenyum. Bisa kurasakan tubuhku tertahan saat dia menerobos dan masuk dalam diriku. Tubuhku bergetar hebat, ada kekuatan yang mengguncang sekujur tubuhku. Seketika itu juga aku berteriak dan beberapa saat kemudian, saat aku membuka mataku, kepalaku sedikit terasa sakit, ternyata aku sudah terbaring di lantai kamarku. Aku terjatuh dari posisi dudukku di tempat tidur, aku kaget setengah tak percaya, apa yang baru saja terjadi dengan diriku.
Lalu aku bergegas bangun, jam dinding sudah menunjukan pukul enam pagi. Aku meraba kepalaku.., masih kurasakan gelombang helai rambut di telapak tanganku. Lalu tanganku pindah ke telinga, hidung, bibir, pipi, dagu…semuanya masih terasa ada. Cepat-cebap aku berbalik ke arah cermin, masih terlihat bayangan diriku di balik cermin. Aku memukuli kedua pipiku, dan masih terasa sakit. Kulihat kedua kakiku masih menempel di lantai, aku hanya memastikan bahwa aku tidak sedang bermimpi. Setelah kupastikan semuanya masih utuh, sambil tersenyum aku mengelus dadaku, oh..ternyata aku belum mati, pikirku. Aku hanya tersenyum sendiri, konyol rasanya memandangi diriku yang tiba-tiba panik dengan apa yang baru saja terjadi. Jujur saja, ini kali pertamanya dalam hidupku mengalami hal seperti ini. Tak bisa kubedakan, apakah itu mimpi atau kenyataan yang jelas aku masih dapat bicara dan melihat hingga sampai saat ini.
Sesaat kemudian kurebahkan tubuhku diatas tempat tidurku, kudekap kepalaku dengan kedua telapak tanganku. “Terimakasih jiwaku… engkau telah kembali”.ucapku. Kali ini ucapanku benar-benar bersuara dan kudengar sendiri. Itu kulakukan agar aku mengenali suaraku sendiri. Terimakasih telah setia menemani ragaku, walau kutahu ragaku miskin, namun engkau jiwaku tak pernah lepas dari ragaku. Saat kesedihan menghampiri, engkau menghiburku. Temani aku dalam kesendirianku, mengingatkan aku ketika aku salah memahami diriku dan orang lain. Engkau menaklukan emosi dan hasrat ragaku yang liar, kala aku terpesona oleh keindahan dunia. Enkau menuntun langkah kakiku, tajamkan tatapan mataku, pulihkan pendengaranku dan mencuci otakku dari segala kenistaan.
Engkau laksana matahari, tapi tak seperti matahari karena tak ada siang maupun malam bagimu, engkau setia mengikuti ragaku berlari dan berhenti kembali.
Kau bagai pelita yang menerangi kegelapan malamku, tapi engkau lebih dari sekedar menerangi saja tapi juga hangatkan aku dan tak pernah padam sekalipun badai menerjang. Kau seperti angin, tak dapat kusentuh, tak dapat kulihat namun kubisa rasakan hembus belai bisikanmu terdengar sendu damaikan kalbu.
Betapa beruntungnya diriku, engkau jiwaku..pemilik ragaku. Engkau jiwaku sahabatku, ingin kusalami engau setiap waktu dan kuceritakan segala kisahku. Engkau jiwaku kekasihku ingin kudekap selalu, kubelai mesra dalam kehangatan kasih sayangku. Engkau jiwaku bintang hatiku, engkau ada sebagai penunjuk dalam kegelapan agar aku tak tersesat dalam waktu.
Terima kasihku untukmu jiwaku…
janganlah engkau pergi sebelum waktuku usai….
Dan bila suatu saat nanti,
ketika waktumu tiba…
engkau ingin lepas dari ragaku,
tolong beri tahu aku..
atau isyaratkan sebuah tanda
agar aku bisa titipkan kisahku padamu
dan bawalah semua ceritaku
bersama kepergianmu...
*********
Inilah kisahku, maafkan aku jika aku lupa membuatnya sempurna.
….and what your story on November rain…..??
Tidak ada komentar:
Posting Komentar