Translate

Selasa, 02 Oktober 2012

Ssstt !! Jangan ribut, bicaranya penting !

Sekali waktu sahabat saya berbaik hati, dia bayarin aku pendaftaran untuk ikut sebuah seminar. Saya tidak tahu pasti temanya, yang saya ingat aja tentang pengembangan karakter. Tempat seminarnya lumayan oke, di ballroom sebuah hotel yang cukup terkenal.
Saya sendiri sebenarnya jarang ikut seminar, maklum kebanyakan aktivitasku diluar ruangan, bukan duduk sopan dalam ruangan berpendingin dan mendengarkan. Tapi karena teman yang ajak, tak kuasa juga kumenolaknya.

Dengan pakaian rapih yang kupinjam darinya, kami bergegas ke tempat tersebut. Gugup juga rasanya, bukan lantaran karena banyaknya orang, tapi saya kikuk dengan jas dan dasi yang saya pakai. Baru kali ini saya berpakaian separlente gini, oh my girl..dasar orang lapangan, pikirku.
Singkat peristiwa, acarapun dimulai dengan band pembuka dan macam-macam yang lainya. Setengah jam berlalu, rasa kantuk mulai menyerang, lutut asem, mata berat, pokok e pengen tidur aja. Tiba-tiba saya dikagetkan dengan suara sound system menyambut pembicara yang ditunggu-tunggu.
Tepuk tangan meriah serta sorakan mengiringi langkah si pembicara. Wajahnya seperti tidak asing lagi, saya pernah tonton di tv, ah entahlah mungkin saya hanya terlampau ngantuk untuk mengidentifikasi mukanya.

Banyak hal yang dibicarakanya, mulai yang basa-basi ampe yang serius. Saya sendiri sering memperhatikan orang-orang mengangguk tanda setuju.
Makin lama pembicaraanya kian menggebu, dia mengkritik sikap dan prilaku yang biasa kita lakukan.
Semua yang ada dalam ruangan tersebut hening, hanya suara si pembicara yang terdengar. Sampai suara batuk pun gak ada, oh iyea yang ikut seminar orangnya sehat-sehat semua lho.

Sebenarnya kalo menurut saya, tak ada istimewa yang dibicarakanya. Hal-hal biasa yang sering saya bicarakan di warung kopi pinggir jalan. Hanya saja gaya bicaranya sangat elegan. Menurutku dia pandai memaki orang dalam ruangan tersebut dengan penghalusan kata yang memakai pelembut paling ampuh. Sehingga orang yang mendengarnya seolah merelakan dirinya dimaki habis-habisan.
Kecuali saya, agak gerah mendengarnya, telinga saya panas, dan kelakuan jalananku mulai bangkit. Sebenarnya saya ingin teriak memprotesnya, tapi saya gak mau membuat sahabat saya jadi malu dengan tingkahku, apalagi tadinya saya kesini numpang mobilnya, bisa-bisa ditinggal saya nanti.
Sayapun memilih untuk mengoceh saja, saya tidak setuju dengan jalan pikiranya. Mudah saja dia bicara seolah itu suatu kebenaran mutlak tanpa memperhitungkan sudut pandang lainya.
Karena kata-kata saya mengganggu si Bapak yang kepalanya botak yang duduk di baris depanku menoleh ke belakang dan menengur saya, katanya; sstt..jangan ribut, bicaranya penting lho !

Saya pun diam sebentar, bukan lantaran karena tegurannya tadi, tapi saya nggak percaya aja, Bapak yang seneces itu pun merelakan dirinya dimaki-maki oleh pembicara yang ada di depan.
Dia merasa penting untuk dihujat tanpa mencari tahu, apa salah kami?
Saya menoleh ke sahabat saya, rupanya dia juga tenggelam dalam kedukaanya.
Biasanya dia yang paling suka mengkritik orang, tapi kenapa dia mendadak goblok gitu ya? Saya jadi bertanya, apa dalam setiap pembicaraan karakter, kita harus merelakan untuk melepaskan karakter kita yang sebenarnya?
Karena tidak menemukan jawaban, saya memilih untuk berdiri dan keluar, pura-pura ke toilet aja, biar gak kelihatan bertingkah aneh saja.

Di balik bilik termenung, saya sadar bahwa mereka yang ada dalam ruangan tadi rupanya sedang mengidolakan si pembicara. Mereka tak peduli dirinya dicemooh, dirinya diumpat, dirinya dikurangi rasa kritisnya, yang penting dia bicara dan semuanya itu baik dan benar adanya. Bicara yang tak penting sekalipun akan dianggap penting. Padahalnya dia sendiri pun tahu apa yang dibicarakan tanpa harus dikasih tau oleh si pembicara. Ataukah sahabat saya sedang membodohi dirinya sendiri?
Saya hanya tak suka menyimpulkanya namun yang pasti makan siang di hotel itu membuat saya kenyang,
saya jadi ingat ucapan si Patrick temanya Sponge Bob, 'mengidolakan seseorang secara berlebihan sebenarnya tidaklah sehat'
lalu kami pulang.
Bulan depan mau ikut lagi? Tanya sahabatku....

Sekali waktu sahabat saya berbaik hati, dia bayarin aku pendaftaran untuk ikut sebuah seminar. Saya tidak tahu pasti temanya, yang saya ingat aja tentang pengembangan karakter. Tempat seminarnya lumayan oke, di ballroom sebuah hotel yang cukup terkenal.
Saya sendiri sebenarnya jarang ikut seminar, maklum kebanyakan aktivitasku diluar ruangan, bukan duduk sopan dalam ruangan berpendingin dan mendengarkan. Tapi karena teman yang ajak, tak kuasa juga kumenolaknya.

Dengan pakaian rapih yang kupinjam darinya, kami bergegas ke tempat tersebut. Gugup juga rasanya, bukan lantaran karena banyaknya orang, tapi saya kikuk dengan jas dan dasi yang saya pakai. Baru kali ini saya berpakaian separlente gini, oh my gir..dasar orang lapangan, pikirku.
Singkat peristiwa, acarapun dimulai dengan band pembuka dan macam-macam yang lainya. Setengah jam berlalu, rasa kantuk mulai menyerang, lutut asem, mata berat, pokok e pengen tidur aja. Tiba-tiba saya dikagetkan dengan suara sound system menyambut pembicara yang ditunggu-tunggu.
Tepuk tangan meriah serta sorakan mengiringi langkah si pembicara. Wajahnya seperti tidak asing lagi, saya pernah tonton di tv, ah entahlah mungkin saya hanya terlampau ngantuk untuk mengidentifikasi mukanya.

Banyak hal yang dibicarakanya, mulai yang basa-basi ampe yang serius. Saya sendiri sering memperhatikan orang-orang mengangguk tanda setuju.
Makin lama pembicaraanya kian menggebu, dia mengkritik sikap dan prilaku yang biasa kita lakukan.
Semua yang ada dalam ruangan tersebut hening, hanya suara si pembicara yang terdengar. Sampai suara batuk pun gak ada, oh iyea yang ikut seminar orangnya sehat-sehat semua lho.

Sebenarnya kalo menurut saya, tak ada istimewa yang dibicarakanya. Hal-hal biasa yang sering saya bicarakan di warung kopi pinggir jalan. Hanya saja gaya bicaranya sangat elegan. Menurutku dia pandai memaki orang dalam ruangan tersebut dengan penghalusan kata yang memakai pelembut paling ampuh. Sehingga orang yang mendengarnya seolah merelakan dirinya dimaki habis-habisan.
Kecuali saya, agak gerah mendengarnya, telinga saya panas, dan kelakuan jalananku mulai bangkit. Sebenarnya saya ingin teriak memprotesnya, tapi saya gak mau membuat sahabat saya jadi malu dengan tingkahku, apalagi tadinya saya kesini numpang mobilnya, bisa-bisa ditinggal saya nanti.
Sayapun memilih untuk mengoceh saja, saya tidak setuju dengan jalan pikiranya. Mudah saja dia bicara seolah itu suatu kebenaran mutlak tanpa memperhitungkan sudut pandang lainya.
Karena kata-kata saya mengganggu si Bapak yang kepalanya botak yang duduk di baris depanku menoleh ke belakang dan menengur saya, katanya; sstt..jangan ribut, bicaranya penting lho !

Saya pun diam sebentar, bukan lantaran karena tegurannya tadi, tapi saya nggak percaya aja, Bapak yang seneces itu pun merelakan dirinya dimaki-maki oleh pembicara yang ada di depan.
Dia merasa penting untuk dihujat tanpa mencari tahu, apa salah kami?
Saya menoleh ke sahabat saya, rupanya dia juga tenggelam dalam kedukaanya.
Biasanya dia yang paling suka mengkritik orang, tapi kenapa dia mendadak goblok gitu ya? Saya jadi bertanya, apa dalam setiap pembicaraan karakter, kita harus merelakan untuk melepaskan karakter kita yang sebenarnya?
Karena tidak menemukan jawaban, saya memilih untuk berdiri dan keluar, pura-pura ke toilet aja, biar gak kelihatan bertingkah aneh saja.

Di balik bilik termenung, saya sadar bahwa mereka yang ada dalam ruangan tadi rupanya sedang mengidolakan si pembicara. Mereka tak peduli dirinya dicemooh, dirinya diumpat, dirinya dikurangi rasa kritisnya, yang penting dia bicara dan semuanya itu baik dan benar adanya. Bicara yang tak penting sekalipun akan dianggap penting. Padahalnya dia sendiri pun tahu apa yang dibicarakan tanpa harus dikasih tau oleh si pembicara. Ataukah sahabat saya sedang membodohi dirinya sendiri?
Saya hanya tak suka menyimpulkanya namun yang pasti makan siang di hotel itu membuat saya kenyang,
saya jadi ingat ucapan si Patrick temanya Sponge Bob, 'mengidolakan seseorang secara berlebihan sebenarnya tidaklah sehat'
lalu kami pulang.
Bulan depan mau ikut lagi? Tanya sahabatku....

Sekali waktu sahabat saya berbaik hati, dia bayarin aku pendaftaran untuk ikut sebuah seminar. Saya tidak tahu pasti temanya, yang saya ingat aja tentang pengembangan karakter. Tempat seminarnya lumayan oke, di ballroom sebuah hotel yang cukup terkenal.
Saya sendiri sebenarnya jarang ikut seminar, maklum kebanyakan aktivitasku diluar ruangan, bukan duduk sopan dalam ruangan berpendingin dan mendengarkan. Tapi karena teman yang ajak, tak kuasa juga kumenolaknya.

Dengan pakaian rapih yang kupinjam darinya, kami bergegas ke tempat tersebut. Gugup juga rasanya, bukan lantaran karena banyaknya orang, tapi saya kikuk dengan jas dan dasi yang saya pakai. Baru kali ini saya berpakaian separlente gini, oh my gir..dasar orang lapangan, pikirku.
Singkat peristiwa, acarapun dimulai dengan band pembuka dan macam-macam yang lainya. Setengah jam berlalu, rasa kantuk mulai menyerang, lutut asem, mata berat, pokok e pengen tidur aja. Tiba-tiba saya dikagetkan dengan suara sound system menyambut pembicara yang ditunggu-tunggu.
Tepuk tangan meriah serta sorakan mengiringi langkah si pembicara. Wajahnya seperti tidak asing lagi, saya pernah tonton di tv, ah entahlah mungkin saya hanya terlampau ngantuk untuk mengidentifikasi mukanya.

Banyak hal yang dibicarakanya, mulai yang basa-basi ampe yang serius. Saya sendiri sering memperhatikan orang-orang mengangguk tanda setuju.
Makin lama pembicaraanya kian menggebu, dia mengkritik sikap dan prilaku yang biasa kita lakukan.
Semua yang ada dalam ruangan tersebut hening, hanya suara si pembicara yang terdengar. Sampai suara batuk pun gak ada, oh iyea yang ikut seminar orangnya sehat-sehat semua lho.

Sebenarnya kalo menurut saya, tak ada istimewa yang dibicarakanya. Hal-hal biasa yang sering saya bicarakan di warung kopi pinggir jalan. Hanya saja gaya bicaranya sangat elegan. Menurutku dia pandai memaki orang dalam ruangan tersebut dengan penghalusan kata yang memakai pelembut paling ampuh. Sehingga orang yang mendengarnya seolah merelakan dirinya dimaki habis-habisan.
Kecuali saya, agak gerah mendengarnya, telinga saya panas, dan kelakuan jalananku mulai bangkit. Sebenarnya saya ingin teriak memprotesnya, tapi saya gak mau membuat sahabat saya jadi malu dengan tingkahku, apalagi tadinya saya kesini numpang mobilnya, bisa-bisa ditinggal saya nanti.
Sayapun memilih untuk mengoceh saja, saya tidak setuju dengan jalan pikiranya. Mudah saja dia bicara seolah itu suatu kebenaran mutlak tanpa memperhitungkan sudut pandang lainya.
Karena kata-kata saya mengganggu si Bapak yang kepalanya botak yang duduk di baris depanku menoleh ke belakang dan menengur saya, katanya; sstt..jangan ribut, bicaranya penting lho !

Saya pun diam sebentar, bukan lantaran karena tegurannya tadi, tapi saya nggak percaya aja, Bapak yang seneces itu pun merelakan dirinya dimaki-maki oleh pembicara yang ada di depan.
Dia merasa penting untuk dihujat tanpa mencari tahu, apa salah kami?
Saya menoleh ke sahabat saya, rupanya dia juga tenggelam dalam kedukaanya.
Biasanya dia yang paling suka mengkritik orang, tapi kenapa dia mendadak goblok gitu ya? Saya jadi bertanya, apa dalam setiap pembicaraan karakter, kita harus merelakan untuk melepaskan karakter kita yang sebenarnya?
Karena tidak menemukan jawaban, saya memilih untuk berdiri dan keluar, pura-pura ke toilet aja, biar gak kelihatan bertingkah aneh saja.

Di balik bilik termenung, saya sadar bahwa mereka yang ada dalam ruangan tadi rupanya sedang mengidolakan si pembicara. Mereka tak peduli dirinya dicemooh, dirinya diumpat, dirinya dikurangi rasa kritisnya, yang penting dia bicara dan semuanya itu baik dan benar adanya. Bicara yang tak penting sekalipun akan dianggap penting. Padahalnya dia sendiri pun tahu apa yang dibicarakan tanpa harus dikasih tau oleh si pembicara. Ataukah sahabat saya sedang membodohi dirinya sendiri?
Saya hanya tak suka menyimpulkanya namun yang pasti makan siang di hotel itu membuat saya kenyang,
saya jadi ingat ucapan si Patrick temanya Sponge Bob, 'mengidolakan seseorang secara berlebihan sebenarnya tidaklah sehat'
lalu kami pulang.
Bulan depan mau ikut lagi? Tanya sahabatku....




Tidak ada komentar:

Posting Komentar