Rintik hujan di senja itu, mengurungkan niatku untuk jalan-jalan. Diatambah lagi rasa capek yang masih tersisa sehabis pulang kerja. Kurebahkan tubuhku diatas tempat tidur sambil mendengarkan gema Natal. Agak tumben sih aku dengarin lagu-lagu Natal, tapi sekarang sudah Desember, dan sebentar lagi Natal telah tiba. Alunan lagu-lagu Natal menenagkan pikiranku dan sejenak membawaku kembali ke suatu masa, saat-saat aku masih berbagi cerita, bercanda bersama bahkan berselish paham dengan seorang Sahabat karibku. Mayang namanya, aku selalu memanggilnya May…
Dialah yg menemukanku ketika aku hilang dalam waktu, mengangkatku dari keterpurukanku dan dia selalu tersenyum untukku, yang membuatku tetap tegar menghadapi berbagai macam tantangan dalam hidupku.
Hari-hari kami jalani dengan begitu banyak cerita yang terukir, semua kami nikmati bersama tanpa ada rasa bersalah. Kami jalani smuanya ibaratnya mengalir seperti air dan berhembus seperti angin, bebas lepas, tak ada keraguan dan tak ada rasa curiga.
Sebenarnya aku tak begitu kenal dengan May..aku tak pernah tau asalnya darimana, tinggalnya dimana, siapa keluarganya dan kenapa May begitu baik padaku?
Aku tak mempersoalkan tentang itu, yang kutahu May adalah satu-satunya Sahabatku waktu itu. Hubungan kami lebih dekat dari sekedar adik dan kakak, lebih akarab dari seorang sahabat dan lebih mesra daripada sepasang kekasih.
May anaknya baik, rajin, sopan dan periang. Walau aku tak terlalu pinter menilai orang, tapi semua itu kutau dari caranya berteman denaganku. Setidaknya itulah penilaianku selama aku bersamanya, jalani rentang waktu yang tersisa buat kami hidup.
Dua tahun sudah berlalu, May kini tak disini lagi. Dan sebentar lagi Natal. Biasanya menjelang Natal, May selalu saja sibuk mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan. Biasalah anak cewek selalu memburu pernak pernik serta hiasan Natal. Menghiasi pohon Natal adalah kesukaanya, kadang kami saling berbeda pendapat karena May tak perna puas melihat pohon Natal hasil kreasinya, dan itu yang membuatku tersenyum melihat tingkahnya. Kadang pohon Natal yang sudah dihiasinpun dibongkarnya kembali kemudian disangnya lagi. Dari sudut yang satu, dipindahin ke sudut yang lain. Diatas meja, samping rak Tv, di lantai, diatas lemari sampai-sampai pernah sekali karena terus dipindain kesana kemari pohon natalya patah. Dan tau aja, kami harus membeli yang baru lagi. May tak pernah lelah, dia malah tersenyum sambil senandungkan lagu-lagu Natal. Dia pintar menyanyi, bahkan banyak sekali lagu Natal yang di hafalnya dari yang bahasa Indo, Inggris sampai bahasa Latinnya. Aku sendiri cuman bisa nyambung sekenanya aja.
Ketika Natal tiba, aku dan May biasanya mengikuti misa malam Natal. Dia selalu mengajakku ke Gereja, walaupun dia sendiri bukan seorang Kristiani. Entahlah aku tak terlalu menanyakan keyakinannya. Karena yang kutau dia Sahabatku, adikku, dan kekasihku. Bahkan di hari Sabtu sore atau Minggu pagi dia selalu mengajakku ke Gereja. Aku sendiri emang bukan seorang Katolik yang beriman sejati, soalnya agak malas ke gereja, biasalah anak laki ada aja alasanya. Di gereja, May sering menanyakan hal-hal yang diucapkan Romo. Maklum dia bukan Kristiani, jadi gak terlalu mengerti. Aku menjawabnya sebisa yang kutahu, dan dia semakin penasaran. Karena terlalu banyak yang ditanyakan padaku, sementara pengetahuan Katolikku tak terlalu baik. Aku pernah bilang padanya, “ Tuhan Yesus pernah berpesan, janganlah engkau mencari yang tak bisa kau temui di dunia, akan tetapi siapkanlah dirimu untuk menyambut Kristus dihatimu, karena imanmu akan menyelamatkanmu” Mendengar itu May tersenyum, akupun tersenyum, setidaknya dia berhenti bertanya yang tak bias kujawab.
Kini May tak lagi bersamaku, aku tak tak tahu entah dimana dia sekarang. Dulu kami begitu dekat, begitu akarb dan sangat mesra. Namun aku dan May sebenarnya berbeda, ada dinding yang tak bisa kulewati. Sering aku memberikan pengertian padanya, kucoba untuk mengalah, dan kuikuti kata hatinya. Semakin aku lebih dekat denganya, May tetap pada pendiriannya. May sedih, kecewa, dia marah dan dia pergi.. Itulah kali pertama dan terakhir aku melihat May seperti itu. Aku tak pernah tau, apakah dia pergi dengan bahagia atau terluka karena sikap dan kelakuanku. Kesalahan apa yang telah kulakukan, hingga semuanya tiba-tiba hilang dalam hitungan detak jantung. Aku terdiam, pikiranku kosong, tak tau apa yang harus kulakukan. Dalam sedikit kesadaran, aku teringat akan...senyuman May, ya senyuman itu yang membuatku selalu tegar. Kucoba mencarinya, mengikuti lorong yang pernah kami lewati. Menelusuri ruang-ruang waktu yang pernah kami singgahi. Menemukan kembali jejak yang pernah kami tinggalkan. Namun semuanya sia-sia, May tak kutemui juga.
Kuhanya bias berharap, semoga May baik-baik saja dimanpun dia kini. Dalam renunganku, aku berdoa semoga suatu hari nanti, ketika May sedih dan menangis ada jemari yang lembut yang akan mengusap air mata di pipinya. Ketika May lelah meniti hidup ini, ada bahu yang ikhlas tempat ia sandarkan kepalanya menumpahkan segala kerinduan di hatinya. Dan ketika May bimbang dan tersesat ada sepasang mata yang akan selalu mengawasinya, menuntunnya, agar ia tak tersesat dan terjatuh.
May…ketika waktumu tiba, kepakan sayapmu, terbanglah sejauh mungkin. Lintasilah awan putih, bersatu di birunya langit, menembusi ruang dan waktu. Teriakan kebebasanmu, nyanyikan kemenanganmu, dan senandungkan lagu Natal kesukaanmu. Dan janganlah kembali sebelum angina senja berhembus dan bayang-bayang menghilang terhapus waktu. Bila kau lelah pulanglah pada hati yang setia menunggumu, tempat dimana engkau bisa rebahkan tubuhmu dalam dekapan sejuta kelembutan kasih sayang yang tak kau temukan dari perjalanan panjang yang melelahkan ini. Dan bila masih ada waktu yang tersisa, temuilah aku disini, ditempat kita memulai cerita kita, diujung lorong, tempat terindah di dunia…kita.
Terimakasih May..atas semua yang kita jalani bersama , kau tlah ajarkan aku banyak kisah, banyak cerita walau itu bukan yang terbaik, tapi yakinlah itulah yang terindah.
Sesuatu yang kupahami darimu, ketika waktu berlalu aku berpikir, apa yang telah kulakukan, padahal sesungguhnya, yang tak sempat kupikirkan sedang terjadi, bahkan hampir telah usai. Kucoba lupakan sesuatu yang kupikirkan itu nyata, karena sesuatu yang terlihat belum tentu nyata. Dan tak semua hal yang dikatakan itu penting, terkadang apa yang tidak dikatakan jauh lebih penting.
May…aku tak akan pernah melupakanmu, yakinlah cerita sahabat sepanjang hayat lebih indah dari kisah kasih sepanjang rasa…….
Selamat Natal May…
Bersama kita berlutut, berpegangan tangan menyambut Bayi Yesus di hati kita…
“ So this is Christmas I Hope You Have Fun”
Merry Christmas for all,
please forgive me, I’m just a Man, I make a mistake

Tidak ada komentar:
Posting Komentar